| Red-Joss.com | “Maaf, aku tidak bisa, karena ada urusan ini dan itu.”
Wow! Kamu bohong.
“Sorry, aku tidak bisa, karena sibuk ini dan itu.”
Wow, kamu bohong lagi.
Orang yang suka berbohong itu harus diapakan? Dihindari, dicuekin, ditegur, dimarahi, dimaafkan, diampuni, atau jangan dipercaya lagi?
Kita tentu pernah mengambil salah satu sikap di atas.
Orang yang berbohong itu mengecewakan. Ia diberi kepercayaan, kesempatan, dan peluang baik. Tapi ia tidak mau mewujudkan harapan itu. Peluang baik disia-siakan, dan tidak bertanggung jawab.
Berbohong itu kebiasaan buruk, penyakit, dan berdosa.
Orang yang berbohong itu mudah diketahui, karena ia melakukan hal yang sebaliknya. Kebohongan itu juga mudah dikenali, karena yang benar itu bakal tersingkap. Kebohongan itu mudah terlihat, karena media sosial cepat mengirim berita dan faktanya. Sekarang ini, kebohongan demi kebohongan tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
Ketimbang berbohong, lebih baik kita menjadi pribadi yang jujur. Jika tidak bisa, bilang tidak bisa. Jika tidak mampu, bilang terus terang tidak mampu.
Lebih bijak itu menjadi orang jujur, dan apa adanya. Karena banyak orang yang senang dengan pribadi-pribadi jujur.
Orang yang jujur itu hatinya tenang dan tentram. Ia tidak mau membuat dirinya menderita. Ia juga bebas dari segala tekanan dan intimidasi. Untuk menjadi orang jujur itu, kita harus melawan kebohongan itu, dan memenangkannya.
Segera ambil cermin! Lihat, kita ini jujur atau suka berbohong? Hidup lebih damai menjadi orang jujur atau orang yang suka berbohong?
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

