Seperti atap yang selalu bocor, godaan untuk menghapus jejak diri itu terus datang tiap hari. Tapi itu dulu, ketika masih muda. Misalnya, “Tinggal di mana?” Dijawab, “Dekat Bintaro.” Padahal Ciledug. Tidak sedikit yang merasa takut jadi diri sendiri, karena merasa tidak kerèn, tidak sekelas orang lain.
Maka yang tampil justru bukan siapa-siapa:
(1) Kalau bicara sering tanpa asa,
(2) Jika bernazar cenderung ingkar, dan
(3) Ketika diberi amanat kurang bermartabat.
Buah menghapus jejak diri itu amat sangat tidak sehat: rasa was-was hadir di tiap helaan nafas, hati ini makin terasa hambar, tiap langkah terasa diawasi dan makin menguras energi.
Jika begitu, mari kita tampil seadanya. Makin seadanya nafas makin lega dan hidup jadi merdeka.
Salam sehat.
…
Jlitheng

