Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Batu itu adalah simbol kelemahan dan tantangan hidup.”
(Didaktika Misteri Hidup)
Hidup itu Berat
“Hidup itu sungguh tidak mudah,” demikian celetuk banyak orang. Ada juga pepatah dan petitih yang menyebut, bahwa hidup itu sebagai suatu perjuangan. Bahkan yang lebih menantang lagi, beban dan tantangan hidup itu datang dan pergi secara silih berganti, dan tidak ada henti-hentinya.
Mari Ikuti Kisah Heroik ini!
Kisah Guru Hui Ming dan Murid Wei Chen
Kisah klasik dan heroik dari negeri Tiongkok kuno ini, tentang seorang Guru tua (Hui Ming), yang juga adalah seorang Biksu tua, dengan muridnya (Wei Chen), yang ingin belajar ilmu spiritual. Tapi ternyata ia seorang pemarah dan sangat mudah frustrasi.
Suatu hari, Murid itu menerima sebuah tugas aneh dari sang Guru. Ia diminta untuk membawa sebuah batu besar ke atas puncak gunung. Ia pun sungguh sadar, bahwa tugas itu sungguh tidak masuk di akal sehatnya. Namun, demi mengormati Guru, maka dijalaninya juga.
Namun berkali-kali ia mengalami kesulitan untuk membawa batu itu ke puncak gunung. Ia mulai frustrasi dan ingin segera menyerah. Namun, karena Guru itu justru selalu berada di sampingnya, maka ia merasa termotivasi juga. Akhirnya, ia berhasil membawa batu itu ke puncak gunung. Setelah itu, sang Guru memintanya agar batu itu dibawanya kembali ke lembah gunung.
Pada suatu kesempatan, sang Guru mengajaknya untuk mendengarkan, ‘makna dan amanat terselubung dari perintah yang terkesan aneh itu.’
Inilah penjelasannya, bahwa “Batu itu adalah simbol dari kelemahan dan kesulitan hidup ini.” Dalam konteks ini, Wei Chen justru telah “belajar untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan hidupnya dengan ketekunan dan kesabaran.”
Di balik kisah heroik ini, terselip sebuah didaktika hidup, bahwa “Kesabaran, ketekunan, dan kebijaksanaan dapat mengatasi kesulitan serta akan mencapai tujuan hidup.”
(Dari aneka Sumber)
Pandangan dan Sikap Hidup Manusia
Bagi seorang manusia, memang sungguh ideal, jika ia mau bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, di sisi yang lain, ternyata tidak sedikit orang yang justru mau menghindari tugas seberat itu. Itulah dilema laten sebagai realitas di dalam hidup ini.
Lewat kisah Biksu tua dan Batu Beban, kepada kita ditawarkan sebuah didaktika hidup ideal, ialah bahwa kita harus sabar, tekun, dan arif menghadapi realitas hidup ini.
Refleksi
- ‘Vivere Militare est’
(Hidup itu adalah Berjuang) - Lewat kesabaran, ketekunan, dan kebijaksanaan, maka sang manusia pun mengekspresikan martabatnya.
Kediri, 3 Januari 2026

