| Red-Joss.com | Seseorang bisa jauh dari Tuhan, karena cara yang tidak bijak dalam memperlakukan orang lain.
Bijak-tidaknya seseorang terletak pada sikap (lewat kata atau perlakuan) yang diarahkan pada orang lain terutama, ketika orang itu melakukan kesalahan.
Seorang Bapak, sudah berumur, lupa mematikan hapenya, berdering pada saat Pendeta berkhotbah di gereja, sehingga memecah keheningan. Sang pendeta menegurnya (keras) di depan semua jemaat. Duh, malu kali dia.
Semua wajah jemaat berpaling padanya saat Bapak itu ke luar gereja seolah mengatakan: orangtua tak tahu diri.
Sepanjang perjalanan pulang, istrinya marah dan merasa kehilangan muka gara-gara suaminya, yang tanpa sengaja melakukan kesalahan yang bahkan tidak dikehendakinya.
Bapak itu merasa sangat malu dan terhina.
Sejak saat itu, dia tak pernah lagi ke gereja.
Malam harinya dia pergi ke bar, untuk menghilangkan rasa kesal yang menggumpal. Tak sengaja dia menyenggol gelas, jatuh dan pecah. Dalam hitungan detik datang seorang perempuan muda sambil memberikan serbet menyapanya: “Bapak tidak apa-apa? Jangan khawatir, yang penting Bapak tidak terluka,” karanya sambil bersihkan meja dan lantai dari gelas yang pecah. Kemudian.. “Lagian siapa sih yang tidak pernah bersalah?” Sejak itu dia rajin ke bar.
Pesan dari cerita ini: “sering sikap kita yang menyebabkan orang lain menjauh dari Tuhan,” terutama mereka yang bersalah.
Kadang (mungkin bercanda) ada yang usil: “Jualan koq di gereja, hanya buku bacaan bukan firman, nabungnya ke akherat gitu.” Atau ada yang lebih pedes, “ngiri boleh, nyakiti jangan.”
Intinya: kalau kata-kata, renungan, homili, obrolan, sikap kita provokatif, dan menyebabkan orang lain menjauh dari Tuhan, entah di lingkup gereja, keluarga dan lingkungan, ya… jelas… blas tidak bijak.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

