“Tidak ada guna menuntut orang lain berubah. Lebih bijak kita yang berubah sendiri untuk memahaminya.” -Mas Redjo
…
Tidak bosan untuk mengingatkan dengan hati dan doa ikhlas. Karena Tuhan yang mampu mengubah hati orang.
Karena itu saya belajar untuk mengendalikan diri. Saya berusaha untuk menghindari, menjauhi, dan meminimalisasi konflik dengan siapa saja.
Saya juga tidak mau mencari mana yang salah atau benar. Berkonflik itu hanya meninggalkan luka, benci, permusuhan, dan dendam.
Jika teman yang bersalah itu tidak mau dikoreksi dan diingatkan baik-baik, lebih bijak saya mengalah dan menjaga jarak dengannya serta mendoakannya agar ia sadar diri untuk memperbaikinya.
Begitu pula dengan keluarga sendiri. Saya mengingatkan dengan hati, tapi tegas. Sebagai suami dan Ayah dari anak-anak, saya pun tidak memaksakan kehendak dan mau menang sendiri terhadap mereka.
Anak yang nakal dan berbuat salah itu tidak harus disalahkan dan dihakimi, tapi diingatkan, dibimbing, dan ditunjukkan hal yang baik dan benar agar anak memahaminya.
Sebagai orangtua, kita tidak boleh bosan mengingatkan anak, meski mereka nakal dan berbuat salah. Karena kita telah dipercaya Tuhan atas hidup dan masa depan mereka. Kita dituntut sabar, tabah, dan murah hati untuk mengasuh, membimbing, serta mengentaskan mereka.
Saling mengingatkan dengan hati, mengasihi, dan doa ikhlas untuk keluarga adalah cara bijaksana agar kita sukses menjaga keutuhan, kesatuan, dan keharmonisan rumah tangga.
Saling mengingatkan, menguatkan, meneguhkan, dan mengasihi satu dengan yang lain agar keluarga kita dijauhkan dari yang jahat.
Saling mendoakan satu dengan yang lain agar keluarga kita jadi saluran berkat Tuhan.
Keluarga bahagia adalah keluarga yang terberkati.
…
Mas Redjo

