Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Cinta dan benci, rindu dan sayang, semuanya bermula dari dalam sekeping hati manusia.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Hati adalah Pusat Kesadaran Manusia
“Hati adalah pusat kesadaran dari seorang manusia,” demikian suatu kepercayaan yang terdapat dalam banyak tradisi spiritual dan filosofis. Mengapa demikian? Hati manusia telah dianggap sebagai sumber segala kebijaksanaan, cinta, dan kesadaran sejati.
Sikap dan pandangan dalam masyarakat ini, sudah jadi sebuah pengetahuan dan pengalaman yang dapat diterima secara umum pula. Bukankah secara tradisi, orang-orang pun cenderung untuk ‘menyentuh hulu hatinya’
(dada), di saat ia merasa cemas, gelisah, sesal, bersalah, gembira, atau juga bahagia?
Dalam Tradisi Tertentu, Hati Manusia adalah:
- Sebagai Pusat Kesadaran Manusia. Karena hanya lewat hatinya, seorang manusia akan terhubung dengan sesamanya dan alam semesta.
- Sebagai Sumber Kebijaksanaan. Karena hanya lewat pertimbangan secara nurani, seseorang akan membuat sebuah keputusan yang arif dan tepat.
- Sebagai Tempat Asal Cinta. Rasa cinta di dalam diri manusia, hanya bersumber dari dalam hatinya.
- Sebagai Pusat Spiritual. Karena hanya lewat hatinya, seorang manusia akan menghubungkan dirinya dengan Tuhan.
Antara: Otak, Tangan, dan Hati
Bahkan di dalam bidang edukasi, bukankah sasaran sentral dari seluruh proses pendidikan adalah pembentukkan sosok pribadi manusia yang cerdas nalar (kognitif), memiliki sikap berempati atau cinta (afektif), dan pribadi yang berketerampilan (psikomotorik). Inilah sasaran utama dalam seluruh proses pendidikan.
Hati adalah ‘Segalanya’
Dalam budaya dan tata peradatan kita, biasanya orang akan memberikan bimbingan, nasihat, atau amanat yang mau membuktikan, bahwa betapa besarnya peran ‘hati’ manusia, seperti yang terungkap lewat kedua buah contoh berikut ini!
(1) “Berhati-hatilah, saat berbicara.”
(2) “Mohon perhatian, para saudara.”
Penjelasan berikut ini, mau membuktikan, bahwa sungguh, betapa besar peran dari kata ‘hati’ yang kemudian berubah jadi kata ulang ‘berhati-hati’, dan prefiks ‘perhatian’. Bukankah kedua pernyataan ini, justru berasal dari kata dasar ‘hati?’
Hal ini mau membuktikan, bahwa sungguh, sekeping ‘hati’ manusia dapat jadi segala-galanya dalam hidup ini. Dengan demikian, dapat dikonklusikan, bahwa ‘hati’ adalah pusat kesadaran manusia.
Refleksi
“Hati-hati, kala kau gunakan hatimu.”
“Hati-hati, kala kau gunakan mulutmu.”
“Juga hati-hati, kala kau gunakan matamu!”
Kediri, 24 November 2025

