Halaman 13 Buku Putih tentang ‘ngaruhke’, sarana perekat yang memastikan, bahwa api persaudaraan tetap bernyala.
Istilah ‘ngaruhke‘ (Jawa) secara harfiah berarti perhatian pada orang lain. Khabar- Kinabharan (saling berkabar), sebagai wujud paling sederhana, tapi kuat dampaknya, karena alasan berikut:
Dengan menyapa atau sekadar tanya kabar, seseorang mengakui adanya orang lain, wujud penghormatan paling dasar persaudaraan (nguwongke).
Persaudaraan sering renggang bukan karena masalah besar, melainkan karena hilangnya aruh-aruh. Sapaan itu jembatan menjaga kedekatan rasa seduluran. Dengan saling menyapa, kita dapat mengetahui secara dini, jika ada saudara sedang dalam kesulitan atau butuh bantuan, sesuai dengan makna ‘kinabharan’ (saling menjaga melalui kabar).
Tidak perlu biaya atau tenaga besar, cukup ‘ngaruhke’ dengan WA, atau telepon, tapi buahnya sangat besar untuk menjaga kerukunan jangka panjang.
‘Kabhar-kinabhar’ kami jaga dengan adik-adik. Dari mereka selalu ada berita tentang kakak sulung yang sedang mengalami peristiwa Getsemani, merawat istrinya yang sakit serius.
“Donga-dinungo, Pakde!”
Salam sehat.
…
Jlitheng

