“Hidup ini tidak untuk ajang pembuktian diri, tapi untuk dimaknai. Orang yang rendah hati itu dikasihi Allah.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Sadar diri, karena sedikit ilmu yang diketahui, saya berdiam diri dan tidak menolak dibilang sekadar berteori.
Jujur, saya senang berteori, karena waktu adalah untuk belajar, berbagi, dan dimaknai. Saya tidak malu dituduh bodoh dalam mempraktekkannya. Itu hak mereka. Menyangkal dan membela diri, bagi saya hanya membuang energi dan tiada guna.
Saya memilih diam, karena pahami kemampuan sendiri. Berbagi dari ilmu yang dipahami, tidak didasari sok tahu. Apalagi untuk menyerang, mengolok-olok, dan menghasut orang lain. Saya juga tidak mau ribut dan gaduh, karena hal itu bakal permalukan diri sendiri.
Saya ingat nasihat bijaksanawan, bahwa kesombongan itu menutupi mata untuk melihat Tuhan. Karena ada balok di mata sendiri.
Berbeda dengan pribadi bersahaja yang rendah hati. Hikmat Tuhan itu dilimpahkan tidak kepada orang yang cerdik pandai. Tapi pada yang kecil, lemah, dan miskin yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya (Mat 11: 25-27).
Jadi maaf, jika saya berdiam diri alias tutup mulut, karena saya tidak mau terpancing dengan sindiran, hinaan, dan cemoohan yang memerahkan telinga. Saya berteori, karena belajar untuk kendalikan diri.
Silakan gaduh dan ribut sendiri. Sekali lagi maaf, saya tidak bakal terusik. Saya juga tidak mengusik untuk membangunkan harimau yang lapar kebencian dan iri hati.
Saya belajar dan berteori agar tidak salah untuk mempraktekkan dan memaknainya.
Perlahan tapi pasti, yang penting selamat hingga di tujuan.
…
Mas Redjo

