“Malu bertanya sesat di jalan. Rajin berinovasi kita menjawab tantangan zaman.” -Mas Redjo
…
Bagi saya pribadi, bersikap malu bertanya itu tidak pantas dipiara, karena jelas merugikan diri sendiri. Saya juga tidak merasa gengsi, jika harus meminta tolong pada orang lain, ketika mengalami kesulitan, misalnya.
Mendisiplinkan kebiasaan hidup jujur adalah teladan Guru spiritual saya yang harus diwariskan turun menurun sebagai pusaka leluhur. Dengan hidup jujur dan benar itu kita tidak bakal dipermalukan oleh ego sendiri.
Alasan Guru juga sederhana, jika kita berbuat salah itu harus berani meminta maaf untuk perbaiki diri. Budaya malu itu harus ditegakkan. Karena hidup bermartabat dan bertanggung jawab itu jiwa para kesatria!
Sejatinya hikmat hidup jujur dan benar itu untuk menguatan fondasi keimanan agar kita makin bertakwa kepada Tuhan.
Kita juga tidak harus malu bertanya, karena sadar diri. Sejatinya kita mempunyai banyak kekurangan dan kelemahan yang harus diatasi dengan semangat belajar tanpa lelah agar hidup kita makin baik.
Kita bertanya itu tidak sebatas pada mereka yang mumpuni dan ahli di bidangnya, tapi juga bisa melalui Mbah Google, atau membaca Kitab Suci dan menerapkan dalam hidup keseharian kita.
Modal kita adalah tidak boleh lelah untuk mempraktekkan bidang keilmuan itu guna mengembangkan cakrawala berpikir kita agar makin kritis dan jernih.
Tidak lelah untuk terus menerus berinovasi, kita menjawab tantangan zaman.
Hidup berguna dan bermakna bagi sesama!
…
Mas Redjo

