“Pusatkan pikiran. Jangan dilepas pegangan iman itu. Pertolongan-Nya segera datang.” – Mas Redjo
…
“Bapak senang, kau datang dan berterus terang, Le,” kata saya pada anak bungsu, CG yang mau cerita keadaannya. “Semua itu tergantung padamu dan keluargamu yang menjalani.”
CG menarik nafas, mengiyakan.
“Jika Babe jadi saya?”
Saya tidak langsung menanggapi. CG tidak tahan lagi bekerja, karena hendak disingkirkan atasannya, karena imannya. Sedang istrinya menyarankan untuk mencari kerja yang lain. Gaji lebih kecil itu tidak masalah, yang penting suasana kerja nyaman.
“Le, kau tentu ingat kisah Pakdhe, karena menolak diajak kong kalingkong atasannya, dia lalu disingkirkan. Sedang saran istrimu itu baik. Tapi di mana kita bekerja itu keadaannya tidak jauh beda. Yang utama dan penting itu kita bisa membawa diri, beradaptasi, dan luwes.”
“Jika kau bertanya, seandainya hal itu terjadi pada Babe, maka Babe akan memilih untuk bertahan, Le. Karena orang bekerja itu melayani. Kita tidak mungkin menyenangkan semua orang. Yang penting itu tulus hati agar kita tiada beban.”
“Begitu pula, jauhkan prasangka burukmu itu pada Bos. Apa benar, karena beda iman kau diusili dan hendak disingkirkan? Lebih bijak, kita refleksi diri.”
“Seandainya itu benar, bahkan kau dirayu hendak dipromosikan… Diberi ini dan itu. Ya, alangkah bijak, kita bertahan dalam iman. Kita diutus itu untuk bersaksi. Tuhan itu Maha Besar dibandingkan masalah kita. Fokuslah pada Tuhan yang murah hati, karena Dia pasti menolongmu.”
“Babe bangga dan terhormat boleh melayani-Nya. Le, sesungguhnya kita diuji untuk taat dan setia pada Tuhan. Tidak untuk yang lain,” kata saya sambil menepuk bahu CG agar tidak ragu, tapi untuk menguatkannya.
“Aku pulang dulu, Be. Makasih,” kata CG sambil merangkul saya.
“Babe percaya padamu. Kau pasti bisa. Dengan meneladani Tuhan Yesus, semua jadi luar biasa,” kata saya. Senyum CG mengembang.
“Tuhan adalah setia. Dia akan menguatkan hati kita dan memelihara kita terhadap yang jahat” (2 Tesalonika 3: 3).
…
Mas Redjo

