“Aku hendak bersyukur kepadaMu dengan segenap hatiku” (Mzm 138: 1a).
Tuhan merangkai hidup ini tidak seindah yang kita idamkan, tapi, juga tidak sepahit yang kita cemaskan. Dia merajutnya dengan kasih yang bersemaikan tangisan dan senyuman. Di bawah air keruh ada banyak ikan, di balik kegetiran hidup, senantiasa ada banyak anugerah. Bersyukurlah dengan semua ini. Bersyukurlah atas kehidupan, walaupun tidak selalu menyenangkan. Bukankah ada banyak alasan untuk bersyukur? Jadi, sudahkah kita bersyukur?
Pemazmur mengajak kita bersyukur kepada Tuhan dan memuji nama-Nya yang kudus juga pada masa-masa kesesakan (ayat 7). Kenapa? Antara lain, karena: Tuhan itu setia (ayat 2). Ia menjawab saat kita berseru dan menambah kekuatan jiwa kita (ayat 3). Ia mempertahankan hidup kita, mengulurkan tangan-Nya, menyelamatkan kita (ayat 7), dan Ia akan menyelesaikannya bagi kita (ayat 8).
Mungkin, mudah untuk bersyukur akan hal-hal yang menyenangkan, tapi hidup yang berkelimpahan itu datang pada mereka yang juga bersyukur pada masa kesesakan. Bersyukur pada masa sulit itu memerlukan iman dan sekaligus menumbuhkan iman kita makin kuat. Bersyukur dalam iman dapat mengubah hal negatif jadi berkat yang positif.
Sr. M. Stefani, P. Karm
Kamis, 13 Maret 2025
T. Est 4: 10-12.17-19 Mzm 138: 1-3.7-8 Mat 7: 7-12
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

