“Saya tidak menolak kehendak-Mu. Kecuali mengucap syukur dan terima kasih.” -Mas Redjo
Karena saya percaya dan mengimani, sehingga ainul yakin, bahwa rencana serta anugerah-Mu luar biasa.
Hanya mereka yang mengandalkan diri sendiri itu yang berbeban berat. Mereka mudah menyalahkan orang lain, bahkan saking konyolnya itu berani menyalahkan Engkau Yang Maha Baik.
Jika peristiwa pahit getir ini terjadi pada saya adalah wujud anugerah-Mu agar saya membuka hati dan melihat hikmat di balik peristiwa itu.
Engkau tidak pernah menguji saya, kecuali keegoisan saya sendiri yang mudah mengeluh, menolak, berontak, dan menyalahkan-Mu.
Peristiwa demi peristiwa itu terjadi, karena saya teledor dan kurang berhati-hati.
Saya mudah dibohongi teman, karena menilai positif mereka dan melihat dari kaca mata sendiri.
Saya mudah menepuk dada. Ketika dipuji, saya jadi lupa diri, lalu jatuh dan terpuruk.
Di saat alami sulit-sesulitnya dalam hidup ini, karena usaha berantakan dan banyak hutang, teman-teman yang pernah ditolong itu seakan menutup mata, tidak peduli, dan menjauhi saya.
Apa gunanya rajin ibadah dan aktif dalam kegiatan sosial, jika Tuhan juga tidak mau menolong?
Ada orang bilang, jika motor atau mobil rusak itu dibawa ke bengkel untuk diperbaiki.
Jika manusia yang rusak itu untuk dibawa sujud kepada Tuhan, Sang Pencipta.
Padahal saya membiasakan diri untuk menyertakan Tuhan dalam pikiran, ucapan, dan tindakan. Faktanya?
“Datanglah kepada-Ku, kau yang lemah, letih, dan berbeban berat, maka Aku akan memberi kelegaan padamu.”
Firman-Mu menggedor jiwa saya yang kering kerontang ini. Saya rasakan rinai gerimis nan lembut.
Ternyata selama ini saya memuji dan memuliakan-Mu sekadar di tampilan, tidak dari kedalaman hati. Saya berhitung dagang dengan-Mu dengan aktif di banyak kegiatan sosial.
Sejatinya, saya berbeban berat itu datang dari keegoisan, karena saya pamrih dan terlalu menuntut. Saya tidak berani menerima kenyataan pahit untuk bersyukur.
Saya memejamkan mata, menghela nafas panjang. Tubuh ini serasa lemas tanpa daya. Tiba-tiba saya terduduk di depan Altar doa di rumah.
Sadar diri itu yang membawa saya menuju jalan pertobatan agar hidup ikhlas dan berserah pada kehendak Tuhan.
Tidak terasa air mata ini bergulir. Tapi hati saya merasa lega dan damai.
Mas Redjo

