“Kerahiman tampak dari Bapa yang berlari menyambut anak-Nya, sebelum permintaan maafnya selesai.”
Yesus memperlihatkan hati Allah melalui perumpamaan yang sangat terkenal: anak yang hilang. Dalam perumpamaan ini, Ia menyatakan sesuatu yang sering sulit diterima oleh hati manusia: kerahiman Allah melampaui ukuran keadilan kita.
Anak bungsu telah menyia-nyiakan segalanya. Ketika ia kembali, sang Ayah tidak menanyai, menghukum, dan tidak mengujinya. Ia berlari. Sebelum ‘pengakuan dosa’nya selesai, pelukan sudah lebih dahulu diberikan. Jubah, cincin, dan kasut dipakaikan kepadanya; tanda, bahwa martabatnya sebagai anak dipulihkan sepenuhnya.
Kisah ini tidak berhenti di situ. Sang Ayah juga memperhatikan, bahwa anak sulungnya tidak berada di dalam rumah. Maka sekali lagi ia ke luar.
Anak sulung merasa dirinya pantas diperlakukan lebih istimewa, karena kesetiaannya. Tetapi tanpa disadari, hatinya telah menjauh, dan berubah mengeras.
Sang Ayah dengan lembut mengingatkannya: “Saudaramu telah mati dan jadi hidup kembali.”
Tuhan, kerahiman-Mu memulihkan orang berdosa dan sekaligus menyembuhkan hati yang sulit mengampuni.
Seperti yang dinyatakan oleh Nabi, Allah tidak berkenan menghukum, tapi berkenan menunjukkan belas kasih. Allah menginjak dosa kami dan melemparkannya ke dasar laut.
Di kayu salib, Yesus menghancurkan dosa itu bukan dengan menghukum orang berdosa, melainkan dengan mengasihi mereka sampai tuntas.
Allah mengundang kami semua ke meja-Nya. Entah kami sedang kembali dari jauh, atau berdiri di luar dengan hati yang keras. Ia tetap memanggil kami pulang untuk bersukacita di rumah-Nya.
Terpujilah Allah!
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

