Bunda menyambut kedatanganku. Aku mulai berdoa dengan ‘tanda kemenangan’. Salamku untuk Bunda.
Tidak aku hitung hari-hari lelahku. Karena bersama Bunda, berkat itu tercurah memulihakan jiwaku yang lelah dan kering. Sehingga jadi segar kembali.
Aku berdoa untuk keluarga, konfrater, dan sahabat. Juga untuk
terciptanya damai di dunia ini.
Aku bersujud di hadapan Bunda untuk mengambil silih bagi yang berdosa, menolak cinta Tuhan, tidak pernah berdoa, dan bagi mereka yang enggan bertobat.
Aku bersujud di hadapan Bunda dan berbuat kasih pada sesama itu tidak berpikir tentang balasan, untuk diingat, atau dipuji. Kecuali cinta nan tulus untuk meneruskan kasih Tuhan yang maha Pengasih dan Penyayang.
Bersama Bunda, aku tidak pernah sendiri dan sepi. Dalam keheningan itu jiwaku jadi tenang, damai, dan bahagia.
Aku percaya, bahwa doa-doaku disampaikan pada Puteranya, Yesus. Sehingga semua jadi indah pada waktu-Nya!
Rm. Petrus Santoso SCJ

