| Red-Joss.com | “Pak, ada di mana?” tanya seorang teman ahli etika komunikasi dengan strata tiga secara akademis alias doktor.
“Adakah yang bisa saya bantu?”
Akhirnya dapat bercakap berdua, dan saya memposisikan diri lebih sebagai pendengar tentang pergumulan yang sedang dialami sahabat muda itu.
Intinya: sahabat muda itu sedang mengalami diri ‘spiljtanten’ (terbuang) dan ‘vergeten’ (terlupakan).
Menyandang profesi terhormat, namun tanpa makna yang selaras, apalagi ‘vergeten’ dan ‘spiljtanten’ memang menggetarkan hati.
Merasa ‘vergeten’ dan ‘spiljtanten’ dapat merayapi siapa saja dan di mana saja. Dalam hidup berkeluarga, dalam dunia pelayanan, sebagai rakyat biasa ataupun pemimpin, muda atau lansia. Ketika dalam posisi hilang makna, pasti membuat gentar. Ada tapi terlupakan, karena tidak ada sesuatu yg membuat orang lain mengingat. “Nemo dat quod non habet.”
Poinnya, anda harus memiliki sesuatu yang menonjol dan signifikan, yang membuat anda terlihat dan tidak terlipat alias vergeten“.
“Caranya, Pak?” katanya.
“Urup lé , ora asal urip,” kata Bapak. “Make it inspiring,” kata Simbah, artinya harus ada pembeda, yang bisa membuat orang lain melihat dan tersulut hidupnya.
Di lingkungan yang tataran ‘sopo aruh’ itu sudah ‘tiarap’. Tidak cukup, kalau hanya bisa bertahan dengan titel, posisi atau strata. Tapi bersinar bak mercusuar dengan tetap bersandar pada Allah yang anugerahi hidup.
“I wish you luck.”
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jliteng

