| Red-Joss.com | Ketika sedang menyapu halaman rumah yang kotor dipenuhi daun kering yang mulai membusuk itu, tiba-tiba saya diingatkan dengan keadaan ladang hati sendiri yang kotor, berdebu, dan bau.
Jika halaman rumah tidak pernah disapu, sehingga dipenuhi sampah daun dan dari sampah jalanan yang diterbangkan angin, bagaimana dengan sampah di hati kita?
Faktanya, disadari dan diakui atau tidak, kita sering merasa sebagai orang baik dan mempunyai segala kelebihan dibandingkan orang lain.
Mengedepankan pembenaran diri itu biasa kita lakukan dalam hidup keseharian. Kita jadi sombong dan lupa diri.
Merasa sebagai orang baik, kita tidak harus melakukan ibadah yang diwajibkan asal berperilaku baik dan beramal kasih pada sesama.
Melakukan ritual ibadah sebatas kewajiban dan kebiasaan semata, sehingga tidak didasari, bahwa ibadah itu sakral sebagai ungkapan hati. Kita hidup untuk menanggapi karunia kasih Tuhan.
Merasa yang penting mengikuti ibadah, kadang kita jadi abai dan asyik bermain hp atau ngobrol. Anak-anak dibiarkan berlarian dan bersisik, sehingga mengganggu umat yang lain. Padahal sejatinya anak itu membutuhkan keteladanan dan arahan orangtua agar tidak kebablasan.
Saya tercenung mengamati bukit sampah halaman itu. Bagaimana dengan sampah di hati sendiri?
Padahal jika sampah halaman atau rumah itu disapu dan dibersihkan setiap hari tentu tidak berat, alias tugas ringan. Rumah dan halaman jadi bersih dan indah dipandang. Jauh berbeda, jika rumah itu jarang disapu, dibersihkan, dan tidak dirawat dengan baik.
Begitu pula dengan sampah di hati sendiri, setelah sekian hari, minggu, bulan, dan tahun tidak dibersihkan.
Saya memejamkan mata dan ngeri sekali membayangkan semua itu. Sampah hati yang berbau, sumber kuman, dan penyakit!
Jika selama ini saya mudah emosi, merasa cepat ngap, menghakimi, dan berpikiran negatif pada orang lain itu, bisa jadi sumbernya dari hati.
“Bukankah yang menajiskan itu bukan berasal dari yang dimakan, melainkan yang ke luar dari mulut kita?” (Mat 15: 11)
Ternyata selama ini yang membuat saya merasa pandai dan ‘lebih’ dari yang lain itu berasal dari kemalasan dan kebodohan sendiri, karena saya tidak pernah berefleksi dan mawas diri. Sehingga sejatinya, hidup ini serasa tidak layak dihidupi…
Tiba-tiba saya seperti diingatkan, dijamah, dan disadarkan anugerah Tuhan untuk berdamai dengan diri sendiri, sesama, dan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Saya rindu sekali untuk mengaku dosa pada Pastor (In Persona Christi) dan menerima Sakramen Rekonsiliasi (Yakobus 5: 16). Dalam Kitab Suci, Allah memerintahkan pula agar kita saling mengaku dosa dan saling mendoakan.
Sungguh dahsyat dan luar biasa, ketika usai mengaku dosa pada Pastor, dada saya serasa longgar dan hati ini jadi plong tiada beban. Seakan besi yang menindih hidupku telah hilang tiada bekas.
Sungguh, dengan datang dan mengaku dosa pada Tuhan Yesus, kita diberi kelegaan jiwa yang luar biasa (Matius 11: 28).
Sekarang tugasku adalah menjaga hati ini agar tidak dipenuhi sampah pikiran, dengan berkata-kata buruk, dan lewat berperilaku jahat.
Menjaga hati dengan saling mengasihi dan bahagia!
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

