“Sesulit-sulitnya di masa sulit, lebih sulit itu adalah mengendalikan keinginan sendiri.” -Mas Redjo
…
Kebutuhan kita tidak banyak, yang banyak itu adalah, ketika kita tidak bisa mengendalikan dan dikalahkan oleh keinginan sendiri. Sehingga besar pasak daripada tiang. Alangkah bijak, jika kita piawai mengelola keuangan agar tidak jatuh terpuruk.
Tidak ada kata terlambat untuk berubah, perbaiki diri, dan jadi baik. Meski dalam keadaan sulit di masa sulit seperti sekarang ini, di mana harga kebutuhan pokok melonjak tidak terkendali di tengah krisis pembeli.
“Bagaimana kita menyiasatinya?”
Pertanyaan itu menggedor nurani ini. Tidak mudah untuk menjawab, apalagi untuk mengurainya dan memberi solusi pada penjual makanan tradisional yang mangkal di pinggir jalan itu. Misalnya tukang ketoprak, gado-gado, atau ketupat sayur. Dagangan mereka selalu sisa. Padahal, mereka mengurangi bahan dagangannya itu secara bertahap sesuai situasi dan kondisi di pasaran.
Saya juga salut pada mereka yang menyiasati pasaran yang lesu dan sepi itu dengan berdagang dan libur secara bergantian. Tujuannya agar pelanggan dialihkan untuk membeli dagangan rekan mereka. Tapi ternyata tidak mendonggrak omset dagangan mereka, yang juga tetap sisa, alias rugi.
“Kita sedang diuji, bahkan untuk bertahan hidup saja serasa sulit,” keluh UD ditujukan pada diri sendiri. Nadanya nyaris putus asa.
Hatiku serasa diiris melihat dan mendengar realita itu.
Bertahan hidup serasa makin berat di situasi ekonomi yang sulit! Berdagang selalu bersisa. Jika tidak berdagang, keluarga butuh makan. Maju kena mundur kena, dan jadi serba salah.
Untuk berdagang secara online? Mereka gaptek. Untuk alih profesi, dengan mencari pekerjaan lain itu sulit. Apalagi tidak mempunyai keahlian, dan usia juga tidak muda lagi. Lalu…?
Saya jadi teringat, ketika berdagang gado-gado puluhan tahun lalu. Bumbunya saya tambahin kacang mete. Rasanya jadi lebih gurih dan lezat. Berjualan jadi laris manis.
Saya lalu berbagi resep masakan itu pada mereka untuk dicoba.
Jika banyak pedagang menyiasati kenaikan harga dengan mengurangi bumbu atau banyaknya produk, kini bumbu masakan itu ditambahi untuk memancing reaksi pembeli. Meski keuntungan tipis, tapi yang penting omset penjualan tidak jeblok, syukur-syukur, jika omsetnya naik.
Saya lalu mengatur strategi dengan para pegadang langganan yang mangkal tidak jauh dari rumah itu. Saya memberi bumbu campuran, seperti kacang mete dan lainnya itu secara gratis.
Lebih daripada itu, diam-diam, dan tanpa sepengetahuan mereka, saya akan melarisi dagangan mereka. Caranya, saya membeli makanan dari mereka untuk dibagikan pada karyawan toko, relasi, atau teman lainnya. Sekaligus mempromosikan dagangan mereka lewat sosmed.
Saya berharap semangat dagang mereka bangkit kembali. Mencoba, dan terus mencoba cara untuk menyiasati usaha dagang di situasi sulit.
Memberi nasihat dan solusi itu bijak. Tapi melakukan tindakan secara nyata itu anugerah Tuhan.
Semoga Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

