Penyerahan diri yang totalitas itu bisa dirasakan saat kita berdoa.
Tanda-tandanya: Saat berdoa, kita fokus kepada Allah yang disembah (siapkan hati, pikiran, dan intensi yang hendak diungkapkan), dan merendah.
Kita membuka hati dengan ungkapan syukur atas anugerah kehidupan dan berkat-Nya.
Bisa juga kita mohon ampun atas kesalahan dan dosa yang dibuat. Suasana hati dan pikiran harus bersih.
Kita berkomunikasi dengan Tuhan, dari hati ke hati dan dengan ungkapan kata-kata, baik terucapkan maupun tidak.
Setelah fokus, kita membangun relasi-komunikasi dengan Tuhan, lalu hantarlah pikiran dan hati ini pada penyerahan diri secara totalilas ikhlas.
Pada momen ini, kita akan terasa sekali dituntun oleh Tuhan, atau sering disebut Roh Kudus hadir: terasa dalam kedamaian di hati dan ketenangan di pikiran.
Jika sudah sampai pada suasana ini, nikmatilah kebersatuan kita dengan-Nya.
Biasanya waktunya terasa begitu cepat. Meski selalu rindu, tapi harus diakhiri, karena kita harus meneruskan aktivitas lain. Cukup antara 30-45 menit.
Percaya kepada Tuhan agar Dia mengatur hidup kita. Penting untuk ditanamkan dalam keimanan kita: “Dia selalu mempunyai rancangan yang terbaik dan yang kita butuhkan.“
Dia akan mengaturnya dengan sempurna. Catatan: banyak yang tidak sabar, lalu bahkan marah kepada Tuhan, karena kita tidak menyerahkan hidup ini secara total.
Isinya kita menuntùt dan menuntut. Sejatinya kita ini siapa?
Selamat menikmati dan merasakan relasi yang intim dengan Tuhan dalam penyerahan diri yang total. Sehingga doa kita dibenarkan oleh-Nya.
Tuhan memberkati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

