Kebangkitan Yesus Kristus menghadirkan harapan baru bagi Gereja perdana. Para murid yang sebelumnya diliputi ketakutan, kini mengalami sukacita dan keberanian. Mereka bersatu dalam iman dan kasih. Persatuan itu bukan sekadar kebersamaan manusiawi, melainkan lahir dari pengalaman akan Kristus yang bangkit. Yesus yang bangkit mengumpulkan kembali para murid yang tercerai-berai, mempersatukan mereka dan menjadikan mereka saksi kasih Allah bagi dunia.
Yesus yang bangkit datang kepada para murid dan mengembuskan Roh Kudus kepada mereka. Roh Kudus inilah yang jadi kekuatan dan jiwa persatuan Gereja. Mereka yang sebelumnya ragu dan takut, kini jadi komunitas yang penuh keberanian. Roh Kudus memampukan mereka untuk saling menerima, menguatkan, dan hidup dalam semangat persaudaraan. Persatuan mereka bukan karena kesamaan karakter, melainkan karena Roh Allah yang tinggal di dalam mereka. Dalam Roh Kudus, mereka menemukan damai, keberanian, dan semangat pelayanan.
Bekas luka pada tubuh Yesus jadi tanda yang mendalam bagi iman para murid. Ketika Thomas meragukan kebangkitan Yesus, Yesus tidak menolak atau menghakiminya. Ia justru menunjukkan luka-luka-Nya sebagai bukti kasih dan pengorbanan-Nya. Dari luka-luka itu, Thomas menemukan iman dan berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Luka-luka Yesus merupakan tanda kerahiman Allah. Luka-luka itu jadi jembatan yang mempersatukan semua orang percaya, bahwa Kristus yang menderita, wafat, dan bangkit adalah sumber keselamatan bagi semua orang.
Persatuan Gereja perdana lahir dari pengalaman akan kasih Allah yang tidak pernah habis. Mereka hidup dalam kebersamaan, berbagi dari yang mereka miliki, dan saling memperhatikan. Kasih Allah yang besar itu mempersatukan mereka dalam satu persekutuan yang kokoh. Mereka sadar, bahwa mereka semua adalah saudara dalam Kristus. Persatuan itu dihidupi oleh kasih dan kerahiman Allah yang tidak terbatas.
Dalam sebuah komunitas, dua orang sahabat mengalami pertengkaran yang cukup serius hingga mereka saling menjauh. Komunitas jadi terasa dingin dan penuh ketegangan. Tapi suatu hari, salah satu dari mereka jatuh sakit dan membutuhkan bantuan. Tanpa ragu, sahabat yang pernah berselisih itu datang menjenguk dan membantu. Hati mereka tersentuh dan mereka saling memaafkan. Ini adalah tanda, bahwa kerahiman mampu menyembuhkan luka dan mempersatukan kembali .
Jadi, kerahiman Allah bekerja dalam kehidupan orang beriman. Kasih Allah yang tidak terbatas mempersatukan dan memperkuat persekutuan umat-Nya. Dalam Kristus yang bangkit, kita dipanggil untuk hidup dalam persaudaraan dan saling menguatkan. Roh Kudus tetap menjiwai Gereja agar kokoh sampai selama-lamanya. Bersatu di atas kerahiman Allah, kita jadi tanda kasih dan harapan bagi dunia.
“Ya, Allah yang Mahakuasa, perkuatkan kami dalam kerahiman-Mu sekarang dan selama-lamanya. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

