“Kita dipanggil dan diutus untuk jadi saksi Kristus. Dengan menafasi laku hidup Kristiani, kita menuju jalan kekudusan.” -Mas Redjo
Hidup ini harus diarahkan dan fokus ke tujuan agar kita tidak disesatkan oleh keinginan sendiri. Tujuan hidup Kristiani itu bukan untuk kemuliaan duniawi, melainkan bagi kemuliaan Allah. Hidup untuk mengabdi dan melayani-Nya.
Hidup ini harus disiapkan dengan sebaik-baiknya, karena kita tidak tahu waktu pasti datangnya ujian kehidupan itu. Tujuannya jelas, agar kita tidak kaget, gelagapan, dan termehek-mehek, atau kita jadi shok dalam penyesalan. Tapi tetap teguh dan kokoh dalam iman.
Sebagai murid Kristus, kita juga harus senantiasa bersiap sedia dan taat untuk diutus-Nya. Kita dibaptis itu bukan sekadar ritual, melainkan panggilan hati untuk jadi saksi-Nya dan ikut serta dalam misi-Nya. Kita mewartakan Kerajaan Allah, karena kita bagian dari Tubuh Kristus yang diutus untuk membawa Kabar Baik, bahkan hingga ke ujung dunia.
Jika kita tidak mau jadi kaget dalam mengarungi kesejatiannya hidup ini adalah dengan bersandar dan mengandalkan Kristus. Untuk makin intim dengan-Nya, kita bersatu dengan Ekaristi Kudus, membaca KS, Adorasi, meditasi, dan menghadirkan kasih-Nya dalam semangat pelayanan pada sesama.
Fondasi kekuatan iman Kristiani itu sejatinya terletak pada hubungan kasih keluarga kita masing-masing. Kita, sebagai orangtua telah dipersatukan oleh Sakramen Pernikahan Suci. Perjanjian itu seumur hidup dan eksklusif serta tidak dapat diputuskan atau diceraikan, karena mencerminkan kesetiaan Allah.
Dengan jadi tanda kasih Kristus kepada Gereja-Nya, kita menerima rahmat khusus untuk membangun keluarga Kristiani yang bahagia, yakni mewujudkan kesejahteraan keluarga dan mendidik anak-anak dengan iman Kristiani. Sehingga keluarga kita jadi ‘gereja rumah’ yang hidup dalam iman.
Hidup keluarga kita yang diarahkan dan fokus untuk meneladani semangat Kristus adalah fondasi iman yang berakar kuat dalam kasih-Nya. Kita laksana batu karang Petrus nan kokoh dalam menghadapi gempuran godaan si Jahat dan tantangan zaman.
Dengan senantiasa menghidupi semangat Kristiani, kita mengaruhi bahtera kehidupan ini untuk menuju Pulau Kekudusan: bahagia dalam Kerajaan-Nya.
Mas Redjo

