“Stop! Jangan membayangkan hidup dalam kegelapan agar hidup kita tidak makin muram dan gelap.” -Mas Redjo
…
Jujur. Saya sangat bersyukur, ketika melayat di kuburan, tidak terlintas dalam pikiran ini, seperti pikiran beberapa teman. Bahwa jasad yang dikuburkan itu seakan hidup dalam kegelapan, pengap, dingin, dan sepi.
Faktanya, dunia orang hidup dan mati itu berbeda!
Saya mempunyai kepercayaan untuk diimani dan diamini, bahwa orang yang hidup dalam terang-Nya (Yoh 12: 46) itu tidak hidup dalam kegelapan, meskipun telah mati.
Maaf! Jangan pernah dibayangkan, bahwa jasad yang dikuburkan itu diibaratkan hidup dalam kegelapan.
Jika kita tidak mau menjalani hidup dalam keremangan, muram, suram, dan gelap. Ya, segera diputuskan dengan tegas untuk hidup dalam terang. Hidup dalam kasih Tuhan. Hidup untuk memberi, karena kita adalah saluran berkat-Nya.
Tuhan tidak pernah salah dalam memilih umat-Nya, Ia melihat hati. Ia mengenal kita sejelas-jelasnya, karena kita ciptaan-Nya.
“Bersaksi dengan sukacita!” Hal itu harus jadi komitmen yang utama dan bersama, ketika kita mengikuti dan meneladani hidup Tuhan Yesus dalam keseharian.
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14: 6). Penegasan Tuhan itu harus jadi landasan hidup kita untuk komitmen dan konsisten menghidupi teladan-Nya agar kita taat dan setia pada kehendak-Nya.
Arahkan, fokus, dan jalani hidup ini untuk bersaksi dengan sukacita agar kita bahagia dalam kasih-Nya.
…
Mas Redjo

