“Semakin Anda memuaskan diri dan keinginanmu, maka sudah pasti tidak ada tempat di hati ini untuk berpuasa. Sebaliknya, semakin Anda tenggelam dalam puasa maka Anda sebenarnya melatih dirimu untuk memperhatikan makanan jiwamu.”
Hari ini seluruh umat Katolik sedunia memulai puasa agung 40 hari menyongsong pesta Kebangkitan Tuhan pada hari Raya Paskah.
Masa puasa selalu jadi kesempatan yang indah untuk mempertobatkan diri demi membahagiakan jiwa kita.
Masa puasa dalam Gereja pertama-tama tidak membuat orang mengurung diri dan mengabaikan penderitaan sesama, namun sebaliknya melatih hati dan rasa kita untuk semakin memperhatikan orang lain yang lebih menderita dari kita. Apa yang dikurangi atau dibatasi selama masa puasa ini bukan agar tertimbun di rumah, gudang dan dompet kita, melainkan harus didermakan kepada sesama yang lebih menderita. Inilah kesempatan bagi kita untuk mencari dan menemukan wajah Yesus yang miskin, sakit, dan menderita pada wajah sesama kita.
Karena itu selama masa ini biarlah jiwa kita mencari Tuhan, tapi mata, tangan, telinga dan mulut kita mencari dan menyapa sesama yang lebih menderita.
Biarlah di masa puasa ini orang kecil, miskin, dan papa makin merasakan kehadiran dan bantuan Tuhan lewat tangan kita yang siap berbagi kepada sesama.
Selamat berpuasa dan berpantang untuk para sahabat
Monsignor RD Inno Ngutra

