Saya sungguh beruntung, karena sejak kecil telah diajar dan dididik oleh orangtua untuk hidup prihatin.
Masih terpampang jelas dalam ingatan saya, bagaimana orangtua mengajari saya agar doa itu jadi nyata.
Caranya adalah, seusai doa saya diajak untuk langsung melakukan isi doa itu dan diwujudkannya.
Ketika saya ingin membantu teman memberi buku tulis, misalnya. Saya segera membeli buku itu dan memberikan padanya. Jika belum mempunyai uang, saya diminta menabung dulu.
Begitu pula dengan berpuasa. Saya diajar berpuasa dari hal yang remeh dan sederhana, seperti mengurangi jajan, bermain-main, atau nonton tv. Lalu kegiatannya dialihkan dengan belajar, beberes kamar, menabung uang jajan, dan seterusnya.
Saya tidak boleh tidur siang, alasan orangtua adalah, karena berpuasa itu untuk mengurangi nafsu tidur dan ikut merasakan mereka yang hidupnya kurang beruntung. Saya diajak prihatin untuk berempati,
peduli, berbela rasa, dan berbagi.
Dengan belajar hidup prihatin itu, sesungguhnya orangtua mendidik saya berdisiplin dengan kebiasaan baik dan positif. Sehingga saya tidak kagetan dalam menghadapi dan menyikapi apa pun peristiwa dalam hidup ini, tapi untuk melihat hikmat Allah.
Mendisiplinkan kebiasaan hidup prihatin itu, jika diterapkan dalam keseharian pengaruhnya sungguh luar biasa.
Ketika hidup prihatin menjadi gaya hidup, berarti kita harus menjauhi sifat induvidualis, sombong, pamer, temperamental, dan hal negatif lainnya untuk diisi dengan sifat yang lemah lembut, sabar, tabah, dan rendah hati.
Sesungguhnya, dengan menjalani puasa itu kita diajak untuk menjauhi hal-hal buruk dan negatif, lalu diganti dan diisi dengan hal-hal baik dan positif.
Mengendalikan diri agar kita makin beriman, kian rendah hati dan bijaksana.
Mas Redjo

