Perpisahan itu selalu identik dengan kesedihan, perasaan tidak menyenangkan, dan derai air mata. Seperti kata pepatah, “Perpisahan memang tidak akan pernah mudah, karena sifat dasar manusia ingin memiliki, bukan melepaskan.”
Dalam kisah perpisahan antara Paulus dengan tua-tua di Efesus, kita bisa merasakan betapa dekatnya hubungan mereka. Seolah tidak ingin membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja, Paulus berkata kepada mereka, “Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.”
Paulus meninggalkan kenangan yang baik di tengah-tengah umat yang dilayaninya. Ia mengingatkan mereka tentang pentingnya menjaga kawanan yang dipercayakan kepada mereka oleh Roh Kudus.
Dalam Injil, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, mengungkapkan maksud hati-Nya untuk perlindungan dan kesatuan umat-Nya. “Ya Bapa yang kudus, jagalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka jadi satu sama seperti Kita.” la juga mengutarakan, bahwa murid-murid-Nya tidak berasal dari dunia ini, sebagaimana Dia juga tidak berasal dari dunia ini. “Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Apa maksud dari kata-kata Yesus ini? Maksudnya adalah, bahwa kita dipanggil untuk hidup sesuai standar dan kehendak Allah, bukan sekadar mengikuti arus dunia.
“Tuhan Yesus, bantulah kami untuk tidak terpengaruh oleh nilai-nilai dunia ini, melainkan hidup sesuai kehendak-Mu yang suci dan sempurna. Amin.”
Ziarah Batin

