“Tidak ada orang bodoh, tapi yang ada itu mereka yang malas dan tidak mau berubah.” -Mas Redjo
Guru Bijak menegaskan, ketimbang menuntut orang lain untuk berubah, lebih baik kita yang berubah sendiri untuk hidup makin baik dan bahagia.
Intinya, kita tidak boleh menyerah, meski menghadapi sikon yang berat dan sulit. Karena hanya kita yang mampu mengubah dan memperbaiki nasib sendiri!
Ketika sahabat saya, ES bercerita, bahwa keadaan AK sedang jatuh pailit dan istrinya sakit, sehingga memerlukan bantuan. Saya diam tidak menanggapi.
“Dari siapa kau mendengar kabar itu?” pancing saya. ES lalu bercerita bla-bla.
Saya ingat, ketika AK menjauh dan meninggalkan kami. Gara-garanya, mungkin ia malu, kami tidak kuliah? Faktanya ia sibuk. Jikapun mudik, ia sulit dan tidak mau ditemui?
Hubungan yang semula akrab, karena kami bertetangga itu buyar. Apalagi setelah ES dan saya merantau serta disibuki dengan urusan masing-masing. ES dan saya berjanji, meski kami tidak kuliah, tapi masa depan kami tidak kalah dibandingkan AK. Tujuannya untuk memotivasi agar semangat juang kami makin mantab demi meraih masa depan yang lebih baik.
Kini AK yang wiraswasta itu jatuh pailit dan istrinya opname sakit parah. Sehingga ia membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Keadaan AK itu menyebar lewat grup WA, dan dibuka dompet donasi.
“Menurutmu, Bro?” tanya ES.
“Sejak merantau, saya belajar untuk mengambil hal positif dan hikmat dari suatu peristiwa. Saya sudah memaafkan AK. Jika kita membantu AK, lebih baik secara langsung.” Saya tahu, ES males, karena ada ganjelan di hati dengan AK.
“Saya bersyukur, karena peristiwa itu semangat juangku dipacu. Lebih baik, kita membuka lembaran baru. Kita sudah sama-sama tua,” bujuk saya.
Tidak ada gunanya menyimpan ganjelan di hati yang membuat hidup ini jadi tertekan dan berbeban berat.
“Oke?! Kita bukan anak-anak lagi, Bro,” gurauku sambil menepuk bahu ES. Ia mengangguk lemah. Bibirnya tersenyum renyah.
Hati saya serasa plong. Rekonsiliasi itu teramat cerah dan indah!
Mas Redjo

