“Semujur-mujurnya orang yang berbuat curang, lebih hebat, sehat, dan bahagia itu orang yang hidup jujur.” -Mas Redjo
Nasihat bijak Bapak sebelum saya merantau ke Jakarta adalah agar saya berperilaku hidup jujur. Selain tanpa beban, perilaku jujur adalah pilar kepercayaan yang harus dijaga. Karena memudahkan kita diterima dan dalam membangun relasi yang baik dengan sesama.
Bagi saya, berperilaku jujur itu tidak sekadar membuat tubuh ini jadi nyaman, tapi sekaligus membawa berkat dan perlindungan Allah yang melapangkan jalan hidup bahagia.
Hidup jujur apa adanya itu tidak harus membuat saya malu, turun gengsi, dan harus ditutup-tutupi. Maaf, karena saya bukan pemain sandiwara. Apalagi penganut ABS untuk mencari keuntungan semata dan memperkaya diri.
Perjuangan hidup Bapak sebagai pekerja kasar itu tidak membuat saya berkecil hati dan malu pada teman-teman yang mengetahui pekerjaan Bapak. Justru sebaliknya saya bangga, karena Bapak mampu mengentaskan anak-anaknya.
“Bekerja secara halal dan tidak mencuri itu tidak harus malu dan gengsi. Sebaliknya kita harus bangga, karena jujur Le,” tegas Bapak.
Hidup jujur, karena takut akan Allah. Tapi orang yang hidupnya tidak lurus itu menghina Dia. Sekaligus merusak dirinya sendiri (Amsal 14: 2).
Dengan hidup jujur, jiwa saya jadi tenang dan damai. Karena tidak ada yang saya sembunyikan pada orang lain.
Mari membudayakan hidup jujur dan benar agar kita sukses membangun kepercayaan dengan sesama!
Mas Redjo

