“Tidak harus melongo, wow, apalagi takjub. Siapa pun bisa menikmati hari tua itu dengan tinggal di hotel bintang lima!” -Mas Redjo
Syarat utama dan penting adalah kita harus menyiapkan hati ini untuk hidup ikhlas dan bahagia.
Itulah obsesi saya untuk menikmati hidup di hari tua. Saya juga tidak bermaksud tinggal di hotel bintang lima itu agar dianggap borjuis, tajir melintir, atau sok gengsian.
Saya mau menikmati hari tua nan bahagia, karena sejak jauh hari saya sudah menyiapkan semua itu secara saksama, dengan bekerja keras, berhemat, dan menabung.
Jadi, apa dan di mana salah saya?!
Saya juga tidak bermaksud untuk menghambur-hamburkan uang. Karena bagi saya, hal itu sepadan dari hasil pencapaian saya untuk mensyukuri dan menikmati hidup ini.
Saya tinggal di hotel bintang lima itu juga tidak untuk menjauhi atau merasa dibuang keluarga. Tapi hal itu sudah jadi cita-cita, impian, dan obsesi saya.
Maaf! Sekali lagi, hal itu tidak ada hubungan dengan keluarga. Saya juga tidak bermaksud memisahkan diri dari mereka, khususnya anak-anak saya. Tapi niat itu timbul dari kesadaran saya untuk memahami mereka.
Lho?!
Ya, karena anak dan menantu itu sibuk, dan saya tidak mau merepoti atau bergantung pada mereka.
Saya bersyukur. Sejak remaja saya terbiasa hidup mandiri. Saya juga tidak bergantung pada orang lain. Tapi saya sepenuhnya bergantung dan berserah kepada Allah serta mengandalkan-Nya.
Sejatinya, hotel bintang lima yang saya maksud itu adalah panti werdha (lansia). Saya juga sudah mensurvei beberapa panti werdha beserta fasilitas kesehatan dan kegiatannya yang bermanfaat bagi lansia serta biaya bulanannya.
So, saya memutuskan untuk tinggal di panti werdha itu tidak merasa dibuang oleh keluarga. Tapi saya ingin mengisi hidup saya dengan hal-hal positif dan bermanfaat.
Saya ingin menjalani dan mengisi pensiun saya agar tetap berguna bagi sesama!
Mas Redjo

