“Hidup terasa berat dan sulit itu sumbernya dari pikiran, tapi beban yang terberat dari hidup ini adalah jiwa yang dicengkeram dosa.” -NN
Senantiasa membiasakan diri untuk berpikir sederhana, karena hidup ini sederhana. Sedang hidup jadi berat dan rumit itu, ketika kita dikalahkan oleh keegoan diri dan dicengkeram si Jahat ke dalam dosa.
Jangan kaget! Ketika kita bertekun untuk membiasakan diri berpikir sederhana, dijamin keakuan dan si Jahat itu tidak berkutik, alias keok!
Bagaimana tidak. Ketika kita selalu berusaha dan berjuang untuk mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, si Jahat itu jadi ‘salting’, kelabakan, dan kheki setengah mati.
Ketika emosi dipancing, kita tidak reaktif, dan tidak berniat untuk membalas orang itu. Dengan tetap tenang dan berpikir jernih, kita menyelesaikan persoalan secara bijak dan demi kebaikan bersama.
Ketika dihina, dicemooh, didholimi, dan bahkan sekalipun difitnah, hendaknya kita tetap sabar, tabah, dan rendah hati. Karena kebenaran itu akan menemukan jalannya. Orang yang beriman dengan hati itu kekasih Allah, dan kita pasti dibela-Nya.
Dengan senantiasa berpikir secara sederhana, sejatinya kita ditempa untuk melihat hal baik dan postif, di balik yang buruk dan negatif itu. Kita menemukan hikmah di setiap masalah, agar kita makin dewasa dalam berperilaku dan beriman.
Ternyata dengan mendisiplinkan berpikir sederhana untuk jadi pribadi baik itu sejatinya menuntun kita untuk terus menerus memperbaiki diri agar hidup kita makin baik.
Bertumbuh, berkembang, dan berbuah kasih Allah. Hidup ini adalah saluran berkat-Nya agar kita berlimpah sukacita dan bahagia.
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

