“Jika Engkau mau, tidak ada yang mustahil. Karena kehendak-Mu adalah yang terbaik.” -Mas Redjo
…
Menjalani hidup penuh syukur itu yang saya lakukan. Saya mencoba untuk tidak menolak, berontak, atau komplain terhadap peristiwa dalam hidup ini. Selain menjawab dengan hormat dan patuh, “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Berdiam diri dan membuka hati itu yang saya lakukan, ketika deraan persoalan itu membombardirku. Aku tidak menolak, protes, mencari kesalahan orang lain, apalagi untuk menyalahkan-Nya.
Saya mencoba bersikap tenang, mengendalikan diri, dan bersabar. Dengan berpikir sederhana, saya merespon setiap kejadian itu tanpa tendensi. Tapi dengan kebeningan hati.
Berpikir sederhana dengan hati yang bening dan bersabar itu yang saya lakukan untuk merespon dan mencerna setiap peristiwa hidup dengan bijaksana.

Ketika saya cepat merespon dan bereaksi dalam menanggapi suatu kejadian, peristiwa, atau perilaku seorang, saya jadi lemah kontrol dan mudah emosi. Akibatnya, saya sering salah tafsir atau salah paham, dan jadi malu sendiri.
Tidak hanya itu, emosi membuat saya mudah uring-uringan, gelisah, tertekan, dan hati ini makin nyeri.
Ketika semua hal itu dipikir dan didramatisir, saya jadi stres. Beban hidup makin memberat, dan ngap.
Berbeda hasilnya, jika kita tenang. Dengan banyak mendengar, kita melihat persoalan itu dengan hati agar semua tampak jelas dan gamblang.
Begitu pula saat saya disodori kenyataan pahit dan pedih. Ketika Mbak N, dokter hewan yang menangani Buddy, anjing piaraan kami menjelaskan hasil medis pemeriksaan Buddy yang banyak organnya rusak. Selain pernah stroke, jantung lemah, ginjal, dan kini kedua kaki belakangnya sulit digerakkan…

Saya diam, mencoba tabah. Meski hati ini bergejolak didera rasa sedih, was-was, dan takut dengan keadaan Buddy yang makin lemah memprihatinkan itu.
“Tuhan, saya percaya, Engkau pasti memberikan yang terbaik untuk Buddy,” gumam saya lirih, seperti ditujukan pada diri sendiri.
Tiga jam kemudian anak saya kirim WA mengabarkan, bahwa Buddy telah berpulang.
RIP Buddy.
Mas Redjo


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.