Ilmu berpikir kritis itu mengajarkan satu keutamaan, yaitu “makin pintar seseorang itu kian rendah hati dan menginspirasi” (intellectual humility).
Memahami, bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas dan sementara, sedangkan kebijaksanaan sejati itu bersifat Ilahi atau abadi.
Pengetahuan dipandang sebagai anugerah, bukan pencapaian pribadi semata yang bisa dibanggakan atau digunakan untuk superioritas atau arogansi, melainkan sebagai alat untuk melayani sesama dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yg telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah,” lewat cara atau peran apa pun saat ini.
Salam sehat.
Jlitheng

