“Kebahagiaan sejati lahir dari pikiran yang tenang, bukan yang selalu benar.” -Rio, Scj.
Kita sering merasa hidup ini amat berat. Masalah satu belum selesai, rombongan masalah lain datang. Belum juga bangkit dari kegagalan, cobaan lain datang. Mari berhenti sejenak, seruput kopinya agar pikiran ini tenang.
Sebenarnya bukan hidup ini yang berat, melainkan cara berpikir kita yang kurang tepat memandang hidup. Makin dipikir hidup ini berat, kian berat pula hari-hari yang akan kita jalani. Bukannya berproses, melainkan yang ada itu protes. Hidup ini jangan banyak protes, tapi berproses.
4 kesalahan berpikir menurut Stoa:
- Pertama: Berprasangka buruk sebelum tahu kebenarannya. Berprasangka itu boleh saja, tapi kan belum nyata. Yang ada malah membuat kita jadi jengkel, kecewa dan tidak percaya.
- Kedua: Membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kebiasaan ini seperti mengukur kebahagiaan kita dengan penggaris orang lain. Hidup ini tidak untuk dibandingkan, tapi disyukuri dan dijalani dengan iman, harapan, dan kasih.
- Ketiga: Pikiran yang terjebak pada masa lalu. Waktu seolah bisa diputar ulang kembali. Masa lalu itu hanya bisa dimengerti dan dimaknai, bukan diulang.
- Keempat: Kita selalu ingin mengendalikan segalanya. Padahal kedamaian datang saat kita belajar menerima yang tidak bisa kita ubah. Belajarlah berpikir dengan sadar, tidak dengan reaksi. Karena kebahagiaan sejati lahir dari pikiran yang tenang bukan yang selalu benar.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

