“Selalu berpikir positif dan bekerja baik agar rezeki kita ditambahkan oleh-Nya.” -Mas Redjo
Apa yang dicari dalam hidup ini? Sejatinya, kita tidak harus mencari. Karena semua kebutuhan kita telah disediakan Tuhan, bahkan kita dicukupi-Nya. Tapi kita diminta untuk mengabdi dan melayani-Nya.
Kredo itu tidak sekadar jadi acuan hidup, tapi nafas yang menghidupi. Saya meyakini seyakin-yakinnya!
Pesan (almarhum) Bapak saya sederhana, tapi menohok jiwa: “Orang malas itu dimanja si Jahat. Tapi orang yang rajin bekerja dan berbagi pada sesama, berlimpah anugerah-Nya.”
Karena itu saya tidak memilih-milih pekerjaan. Saya selalu ingin hal-hal baru. Bukan karena berpendidikkan rendah, sulit mencari pekerjaan, dan gengsi. Melainkan saya dituntut kreatif dan inovatif memanfaatkan peluang usaha guna menghasilkan uang. Modalnya adalah kemauan, tidak di kemampuan. Apa gunanya orang yang pandai dan mampu, tapi malas?
Untuk berwirausaha itu juga tidak didasari modal besar, tapi kemauan untuk memanfaatkan tantangan itu jadi peluang sukses. Karena tiada modal, saya pernah berkerja lepas jadi tenaga pemasaran majalah, komputer, bahkah hingga properti. Dari usaha itu, saya mempunyai aset yang lumayan. Sukses berdagang itu tidak didasari modal dana yang kuat, tapi lewat kepiawaian kita dalam membangun jaringan relasi pertemanan!
Untuk peduli dan berbagi pada sesama itu tidak harus menunggu kita jadi kaya dulu, tapi yang utama itu dari yang dipunyai. Misalnya dengan pikiran, tenaga, senyuman, penghiburan, doa, dan banyak lagi.
Ketika peduli dan berbagi pada sesama, kita berlimpah anugerah, suka cita-Nya, dan bahagia.
Orang yang berpikir negatif dan jelek itu hidupnya berkekurangan dan menderita. Sebaliknya orang yang berpikir baik dan positif itu berkelimpahan anugerah-Nya.
Sedang untuk calon pasangan, Bapak meminta saya agar mencari pasangan yang mau diajak hidup sederhana, bekerja sama, dan prihatin. Tidak pasangan yang maunya hidup glamour, bersenang- senang, dan boros. Tapi yang utama adalah mampu menyatukan dua keluarga!
Saya pernah melihat Ibu ditegur, atau tepatnya dinasihati Bapak. Ketika Ibu meminta izin besaran uang untuk membatu Ibunya yang sedang opname di RS.
“Ibu tidak harus meminta izin pada Ayah, karena Ibumu adalah Ibuku. Apalagi Ibu sedang sakit,” kata Ayah lembut. Ibu tertunduk dan menangis.
Keteladanan dan nasihat bijak Ayah itu saya hidupi dalam berumah tangga agar keturunan saya miliki pribadi yang tidak egois, tapi saling mengasihi dan murah hati.
Mas Redjo

