“Stop… berkasak-kusuk agar kita tidak jadi busuk!” -Mas Redjo
…
Jika ada hal yang tidak berkenan di hati atau tidak sependapat, ya, kita tidak harus kasak-kusuk dan bicara di belakang. Karena itu bukan sifat kesatria. Lebih baik dikemukakan dengan bijak. Tapi alangkah bijak, jika kita tidak berprasangka buruk kepada siapa pun!
Stop berprasangka buruk! Lebih bijak, jika kita selalu berpikir positif dan berprasangka baik pada orang lain agar tidak mencemari hati sendiri.
Anti berprasangka buruk itu saya hidupi dengan semangat puasa dan pantang di masa Prapaskah ini agar saya berhasil mengendalikan diri, dan rendah hati.
Ketika diajak kasak-kusuk tentang keburukan orang, saya meminta maaf pada teman itu untuk tidak bergosip. Karena membicarakan keburukan orang itu identik dengan menyebar bibit penyakit kebencian ke yang lain, dan makin meracuni jiwa sendiri.
Saya menjauhi, atau tepatnya tidak mau berkasak-kusuk dan bergosip tentang keburukan atau kejelekan orang. Lebih bijak itu berbincang hal baik, positif, dan menginspirasi untuk pengembangan diri menuju masa depan yang lebih baik.
Semangat pembaharuan diri itu yang harus dinyalakan di hati untuk menerangi hidup kita menuju jalan pertobatan, dan membawa orang lain kembali pada Allah.
Semangat pembaharuan diri untuk teguh berkomitmen dan konsisten, kita meninggalkan manusia lama untuk jadi manusia baru.
Caranya adalah dengan melewati jalan kasih bersama Yesus yang rela korbankan diri untuk menebus dosa dan menyelamatkan kita.
Dengan pengendalian diri, saya berpantang untuk mengikis nafsu kedagingan guna menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti-Nya ke Golgota.
“Yesus, Engkau andalanku!”
…
Mas Redjo

