“Masalah itu muncul, ketika kita menuruti ego sendiri.” -Mas Redjo
Untuk jadi pribadi yang rendah hati, dan bijaksana, Guru Bijak memberi nasihat agar saya tidak egois. Tapi yang utama itu mengedepankan kasih, yang menjauhkan kita dari kecewa dan sakit hati. Kasih yang menyembuhkan segala luka batin.
“Kita mengasihi sesama, karena mengasihi Tuhan” itu komitmen yang harus dihidupi umat beriman dalam keseharian.
Mengasihi tanpa sekat dan tanpa konflik itu yang jadi orientasi saya untuk mewujudkan bukti kasih itu pada Tuhan.
Tanpa sekat itu tidak membedakan, tapi tulus hati. Tanpa konflik berarti berani mengalah untuk memahami orang lain tanpa debat, ngedumel, atau nyinyir.
Ketika perbuatan baik itu dicurigai dianggap sebagai pencitraan dan mencari pujian, saya diam, tidak menyanggah dan membela diri. Kecuali mendoakan mereka yang nyinyir, iri, dan dengki.
Ketika dihina, dicemooh, dilecehkan, dan dikhianati oleh teman, saya juga tidak membuka mulut. Karena Yesus juga pernah dikhianati oleh murid-Nya sendiri.
Saya juga tidak menjual Yesus demi memenangkan tender atau proyek. Jika karena mengimani Yesus, saya dipersulit oleh orang lain, bagi saya itu suatu kehormatan. Karena saya diperkenankan memikul salib-Nya.
Begitu pula mereka yang berhutang pada saya, tapi tidak berniat untuk mencicil atau membayar. Hak saya sekadar mengingatkan. Jika mereka tidak membayar itu bukan masalah saya, melainkan masalah mereka.
Dengan mengedepan kasih, saya melepas ego sendiri agar saya rendah hati. Hidup untuk mengasihi sesama itu tanpa prasangka dan ikhlas.
Mas Redjo

