Bar ji bar bèh itu jelas bukan ‘dignitas’ atau sikap bermartabat.
…
| Red-Joss.com | Mungkin kita pernah melihat atau mengalami, ketika masih anak-anak, mengejar layang-layang putus, jatuh bangun melewati pematang dan menerobos di sela-sela rumah. Tapi pada saat layang-layang itu telah diraih oleh salah satu di antaranya, malah beramai-ramai dikoyak! Mengapa?
Salah satu yang jagoan berucap: ”Daripada dia yang dapat dan kita tidak, lebih baik tidak dapat semuanya.” Tanpa pikir panjang meng-iya-kan sebagai bentuk setia kawan.
Di kemudian hari, setelah dapat berpikir jernih, sadar, bahwa sikap mengoyak tentu saja selain tidak fair, juga tidak etis dan licik. Sikap itu adalah sikap yang tidak punya martabat.
Kata martabat berasal dari ‘dignity’ (Inggris), ‘dignitas’ (Latin). Maknanya adalah keadaan atau kualitas yang layak untuk dihormati atau dihargai.
Dalam hal ini, kita melihat, bahwa bermartabat adalah standar hidup yang tak bisa diraih, bahkan ketika seseorang menduduki posisi atau jabatan tertentu. Martabat hanya bisa dibuktikan dengan totalitas hidup, pengabdian sepenuh hati dan tak sekedar pencitraan semata, apalagi sekedar tipu-tipu sehari atau dua hari.
Sikap kanak-kanak pengejar layang-layang itu, yakni bar ji bar bèh (bubar siji bubar kabèh) sedang dengan ramai-ramai dipertontonkan oleh sebagian yang sedang memimpin, di area apa pun, dan oleh paslon pemimpin bangsa dengan ‘tanpa tèdèng aling-aling’ alias ‘ora isin’.
Pesan untuk kita, apa pun posisi dan fungsi yang kita jalani, hargailah dengan ‘dignity’, bukan pencitraan apalagi tipu-tipu. Sebab pencitraan itu mudah bau dan layu, setenar apa pun.
Salam sehat dan bermartabat
…
Jlitheng

