“Dari tiada ke ada, lalu kembali ke tiada agar kita sadar diri. Hidup yang tidak dimaknai adalah kesia-siaan.” -Mas Redjo
Yesus wafat membuka mata batin kita agar paham, bahwa hidup yang dimaknai itu berbuah pengharapan, karena kita dibangkitkan-Nya.
Hidup dalam pengharapan adalah kredo iman untuk senantiasa sadar diri agar kita hidup dalam terang Tuhan!
Tujuan hidup yang diarahkan pada terang Tuhan adalah, supaya kita melihat hikmat-Nya. Sehingga kita selalu optimistis dan percaya diri untuk mewujudkan harapan itu jadi nyata!
Dalam pengharapan, kita tidak mudah membuat alasan untuk menyerah, berputus asa, dan kalah. Sebaliknya jadi penyemangat untuk berjuang dengan gigih, karena di balik tantangan itu kita melihat kesempatan dan peluang untuk sukses.
Dengan semangat optimis itu kita tidak mengenal takut, khawatir, dan jalan buntu. Kita dituntut jeli untuk mengurai akar permasalahan atau tantangan itu jadi jawaban, solusi, atau jalan ke luarnya agar kita jadi pemenangnya!
Hidup yang diorientasikan pada iman, harapan, dan kasih, karena kita adalah murid-murid Yesus yang jadi saluran berkat-Nya.
Dengan iman, jiwa kita diteguhkan untuk jadi pribadi yang sabar, tabah, dan rendah hati.
Dengan harapan, kita jadi penerang untuk menumbuhkan semangat juang mereka yang berputus-asa, hidup dalam kegelapan, dan menderita.
Dengan kasih, kita meneladani Tuhan Yesus untuk berkorban ikhlas hati bagi sesama.
Bermakna, karena dosa kita telah ditebus dan diselamatkan-Nya. Alleluya!
Mas Redjo

