Dalam suatu pengembaraan di Negeri Dongeng, Guru Bijak bertemu dengan seorang muridnya.
“Guru, apa yang mesti kita lakukan, jika dua hati tidak menemukan kecocokan lagi?” tanyanya.
Guru Bijak tidak segera menjawab. Ia mengamati muridnya itu dengan saksama, lalu tersenyum renyah.
“Apa yang kau maksudkan dengan tidak cocok lagi?”
Murid itu menunduk, tidak berani balas menatap. Dihelanya nafas panjang untuk mengumpulkan kekuatannya.
“Hubungan suami-istri … Maafkan saya …,” desahnya lirih. Guru Bijak kembali tertawa renyah.
“Setelah sekian lama … kau mau mengakhiri dan pisah…?” Murid itu menunduk malu. “Apa yang mendasari keputusanmu?”
“Kita tidak cocok lagi, kendati saya terus mencoba mengalah untuk memahaminya…”
Guru Bijak menggoyangkan kepala. “Yang bicara itu bukan hatimu, melainkan egomu,” tegasnya. Murid itu terhenyak. “Aneh, ketidakcocokan muncul setelah hidup bersama sekian puluh tahun. Kenapa tidak sejak awal? Kalau sekadar ujicoba juga tidak bakalan selama itu. Lalu? Coba kau renungkan.”
“Tapi Guru ….”
“Itulah manfaat belajar, dan belajar, Ngger. Hidup adalah belajar: untuk memahami; mengerti dan bahkan untuk sakit hati supaya kita tahan uji, jadi tangguh, dan dimampukan untuk mengantisipasi segala situasi.”
Sang murid menekur makin tidak memahami.
“Pernikahan itu menyatukan dua hati untuk saling percaya, memahami, menghormati, melengkapi, mengingatkan, menguatkan, mendukung dan mengampuni. Tidak ada pernikahan yang sempurna tanpa pengampunan. Untuk memahami hati pasangan, waktu lima-sepuluh tahun itu tidak cukup selama kita tidak mau mensyukuri karunia itu. Tidak mau menerima apa adanya. Seharusnya kau tidak menyesali pilihan dan keputuskanmu sendiri. Dengan belajar untuk memahami dan mensyukuri, maka hati ini jadi damai.”
“Ketika pacaran, kita membungkus sifat kita dengan hal-hal yang baik dan positif. Setelah menikah, kita melihat sifat asli pasangan dan saat itulah kita butuh kebesaran hati untuk menerima, memahami, dan memperbaikinya. Jangan karena ada masalah lalu kita bubaran dan pindah ke lain hati. Sebab tanpa ada keikhlasan untuk mengalah dan saling memaafkan serta mengampuni, maka suatu pernikahan itu sungguh menyiksa hati.”
“Ada sebuah kisah menarik tentang seorang Asisten Rumah Tangga keluarga besar. Bagaimana ART itu bisa melayani banyak penghuninya? Nyatanya ia mampu bertahan puluhan tahun, bahkan dianggap seperti keluarga sendiri? Apa rahasianya? Ternyata ia belajar untuk mengejawantahkan kemauan para penghuninya itu. Awalnya, memang sulit, karena isi pikiran dan keinginan orang yang satu dan yang lain itu beda. Dikomplain itu hal biasa dan tidak semua penghuninya puas dengan pekerjaannya. Yang penting ia bekerja baik dengan hati dan cinta.”
“Begitu pula kita. Kalau kita menjalani hidup berumah tangga dengan hati dan komitmen, maka Insyaalah rumah tangga jadi damai. Karena hanya ada keikhlasan dan kasih. Kita selalu berpikir positif hanya untuk kebahagiaan bersama.”
“Nah, sekarang ketidakcocokan itu datangnya dari mana?” kata Guru Bijak sambil menatap muridnya itu lembut. Tatapan mata yang teduh dan menenangkan hati.
Mas Redjo

