“The people can at best copy our creations, not our creativity.” – Rio, Scj.
Budaya contek mencontek, copy mengcopy, atau plagianisme itu sudah meraja lela khususnya di tanah air. Bahkan berkembang para joki ijazah dari tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Para tokoh politik dan pegawai pemerintahan juga ikut andil melestarikan budaya ijazah palsu itu.
Para pendidik guru dan dosen juga tidak malu-malu menggunakan hasil riset penelitian mahasiswa untuk menulis buku dan mempublikasikannya. Sehingga pantas, jika banyak koruptor dan plagiat, singkatnya banyak pencuri.
Bicara soal pencuri, alkisah di sebuah taman penuh bunga terjadilah pecakapan antara burung dengan lebah.
“Hai lebah, kamu bekerja keras, mengumpulkan banyak makanan untuk menciptakan madu. Ketika madu sudah banyak manusia datang dan merampas serta mengambil madu itu. Apakah kamu tidak sedih?”
“Tentu seduh! Tapi kami sadar, bahwa manusia hanya mengambil madu, tapi mereka tidak dapat mencuri kehebatan kami untuk membuat madu,” jawab Lebah itu.
Begitu juga dalam hidup, meski banyak yang meniru, mengcopy, mencontek, ingat tiga hal ini:
Pertama: “The people can at best copy our creations, not our creativity.” Orang lain boleh mengcopy dan mencontek hasil karya kita. Meski sedih dan tidak menerima, tapi tidak perlu kawatir, karena mereka tidak bisa mencuri dan mengambil skill, maupun kreativitas kita.
Kedua: “They can at best steal our techniques not our talent.” Biarkan orang lain mencuri teknik dan cara kita membuat sesuatu. Marah dan jengkel itu boleh. Tapi kita jangan khawatir, karena mereka tidak bisa mengambil dan mencuri talenta yang kita punyai.
Ketiga: “They can imitate what we do, but can not take away our ability to inspire.” Jangan galau, jika ada orang yang meniru dan ikut-ikutan gaya, cara, dan prilaku kita. Karena mereka tidak bisa mengambil kemampuan, keutamaan, dan spirit yang bisa menginspirasi hidup kita.
Dari semua hal itu yang penting, yaitu fokus dan bertumbuh dalam banyak hal, maka tidak akan ada orang yang bisa mengambil dan mencuri. Tapi kita bisa jadi inspirasi dan cahaya bagi sesama.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

