Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[Red-Joss.com] Bukan karena setelah makan sambal, lalu lidah kita merasa kepedesan dan kata-kata itu tidak bisa dikendalikan lagi. O, bukan!
Pedas berkata-kata itu muncul dari pribadi-pribadi yang suka merendahkan, mengejek, dan perasaan yang tidak terkendali. Biasanya, sudah tidak mengejutkan lagi, karena itu sudah melekat pada jatidirinya.
Ada orang yang bisa menyadari dan mengakuinya, tapi ada yang tidak pernah bisa menyadari, dan tidak mampu untuk mengakuinya, bahwa itu adalah kelemahan dan kekurangannya.
Berkata-kata dengan pedas itu tidak mudah dihentikan begitu saja. Sebab, dibalik semua itu ada kebodohan, kedunguan dan kekerasan hati. Ketika yang lain berbicara ini, dia maunya berbicara yang itu. Padahal yang dibicarakan menambah kedunguannya.
Mungkinkah, yang pedas berkata-kata akan menemukan jalan ke luarnya? Tergantung. Jika dia sadar, maka dia bisa berubah. Jika dia tahu, maka dia seharusnya malu. Jika dia mau bertobat dan memperbaiki dirinya, maka dia akan menemukan jalan hidup yang baru.
Saat saya berjumpa dengan dia yang suka berkata-kata pedas, saya minta untuk mencoba sambal โBu Rudyโ yang super pedas itu, supaya dia tidak bisa berkata-kata makin pedas lagi. Sehingga ia benar-benar kepedesan, dan minta penangkalnya. Ooo, tapi tidak semudah itu. Yang saya lakukan lebih dari itu, yaitu mendoakannya agar ia bisa memperbaiki caranya untuk berkata-kata yang manis. Karena kata-kata yang manis itu buahnya juga manis.
Rm. Petrus Santoso SCJ

