| Red-Joss.com | Salah satu penerima Salam Pagi bertanya: “Pak, apakah refleksi Salam Pagi pasti dibaca oleh semua yang menerima?”
“Tidak,” jawab saya.
“Mengapa terus mengirim salam itu?”
“Dapat menulis Salam Pagi bagiku adalah rahmat yang harus jadi berkat bagi sesama.”
Bukan sebagai penambah pundi-pundi rohani pribadi, melainkan sebagai wujud kesetiaan pada pemberi rahmat, yakni Allah.
Rahmat (gratia, grace) adalah karunia yang bukan, karena jasa kita, melainkan kemampuan yang semata karena kebaikan Allah. Misalnya, kemampuan untuk menyanyi, menulis, melukis, berbisnis, melayani, memimpin. Kemampuan itu rahmat untuk dikembangkan menjadi berkat, tidak boleh dibelokkan jadi penambah pundi-pundi kesalehan pribadi sebagai bekal masuk Surga.
Bisa masuk surga itu juga karunia dari Allah, lewat Yesus yang wafat dan bangkit.
Maka, Salam Pagi setiap pagi yang saya tulis dan saya kirim, dibaca atau tidak dibaca oleh penerima itu bukan tujuan utama.
Tujuan utamanya: lewat Salam Pagi ini saya menitipkan salam bagi setiap penerima, bahwa Allah tidak pernah lupa mencintai kita.
Marilah kita belajar terus untuk saling mengasihi, dengan cara Allah mengasihi kita.
Salam sehat dan jangan lupa untuk mengasihi.
…
Jlitheng

