Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di kala asa hidupmu dilimpahi berkat rahmat dan sekaligus dijejali bara api kutukan.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Asa Kehidupan
Orang-orang kebanyakan, biasanya akan melandasi proses jatuh bangun dan perjuangan hidup mereka, lewat doa-doa tulus serta spirit dari pijar bara api pengharapan.
Itulah yang dinamakan sebagai ‘asa hidup’. Spirit dasar dari asa kehidupan inilah sebagai ‘soko guru’ dari pondasi hidup mereka. Sejatinya, bahwa kehidupan ini dapat diibaratkan sebagai sebuah bangunan hidup.
Realitas Kehidupan Manusia
Kenyataan hidup ini telah membuktikan, bahwa sejatinya suasana kehidupan ini justru sangat bervariasi. Artinya, ada pasang naik dan pasang surutnya. Ya, antara jatuh dan bangun, antara untung dan rugi.
Bukankah bijaksanawan pernah bertutur, bahwa sesungguhnya, suasana kehidupan manusia itu akan sangat bervariasi. Hanya lewat realitas itulah, manusia akan bertumbuh menjadi kian dewasa. Ya, ibaratnya setangkai pisau yang diasah, dan jadi tajam. Demikian pula manusia yang diasah lewat terpaan badai hidup, yang akan bertumbuh jadi kian kuat dan dewasa.
Antara Berkat atau Kutukan Hidup
Saya merefleksikan, bahwa akan jadi apa serta bagaimana, kenyataan hidup ini, semuanya itu, sangat bergantung dari sikap hidup manusia itu sendiri. “Kehidupan model apakah yang sering dimimpikannya?” Bukankah “Saya adalah representasi dari seluruh isi berpikirku?” Artinya, “aku adalah reproduksi dari seluruh isi pikiranku?”
Aku telah Menciptakan si Aku
Bukankah akulah pencipta atas diriku sendiri? Ternyata, aku ini adalah produk dari isi pikiranku. Maka, dapat dikonklusikan, bahwa akan ke mana arah dan akhir hidupku, semuanya itu, tentu akan sangat bergantung dari sikap serta isi pikiranku.
Bukankah, jika isi pikiranku itu melulu dilandasi dan dijejali oleh pikiran-pikiran yang serba negatif, itu dapat bermakna, bahwa aku telah menolak rahmat?
Konklusi
Jadi, pada dasarnya, antara sebuah “berkat atau sebuah kutukan,” itu hanyalah konsep berpikir manusia.
Sedangkan sebuah realitas yang akhirnya dapat jadi ‘sebuah kenyataan hidup’, hanyalah produk dari pikiran manusia itu sendiri.
Karena bukankah pada prinsipnya, bahwa Tuhan hanya menawarkan suatu kebahagiaan hidup?
…
Kediri, 26 Juli 2025

