Tadi malam saya menerima undangan perkawinan dari kawan lama, begini bunyinya:
“Pakde Steven dan keluarga. Kami berdua, Frans dan Lisa, (begitu namanya disebut), mohon ‘donga pangestu’, mengawali perjalanan kami sebagai istri dan suami di era yang penuh dinamika ini.”
Paduan kata Pakde dan Steven memang terasa agak kurang nges atau sreg, tapi sebutan Pakde dan Bude itu memuat kenangan yang sangat padat. Masa kanak-kanak Frans sangat kami kenal dan tumbuh kembangnya pernah berbarengan dengan anak sulung kami, yang setahun lebih dulu berkeluarga dan telah dikaruniai anak.
Dengan orangtuanya kami pernah bernaung di bawah atap perusahaan yang sama dan berlanjut di bawah atap usaha yang, oleh izin Tuhan, saya yang mengelolanya. Banyak kisah indah yang mengingatkan, betapa tak terbatasnya campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia ini.
Singkat saja jawaban kami: “Tak pangestoni, ya, Frans. Jadilah selalu mata dan tangan untuk Lisa, istrimu. Siap mengusap jika dia menangis dan peduli jika ada luka padanya. Berkah Dalem.”
Pernikahan adalah salah satu momen sakral yang paling membahagiakan dan selalu ditunggu oleh setiap manusia, yang berniat dan orangtuanya. Tak jarang, ketika melangsungkan acara pernikahan, seseorang akan merayakannya dengan cara istimewa, sebagai wujud rasa syukur atas rahmat yang tengah diraihnya.
Pernikahan itu bukan sekadar perayaan, namun peristiwa luhur, ketika dua orang untuk bersama-sama mengucap janji suci untuk membangun rumah tangga yang harmonis, yang patut dijaga sampai hayat berakhir.
Seharusnyab semua yang mengawali hidup bersama dengan sukacita, tidak akan bercucur air mata di tengah jalan. Namun, banyak kisah bercerita demikian. “No one stand alone. Everybody needs a little help, sometimes.” ‘Nderek prihatos dan tetap semangat. Gusti ora sare’.
Salam sehat dan bahagia berbagi cahaya.
Jlitheng

