“Sepandai-pandainya seseorang itu menutupi aibnya, pasti tercium juga baunya.”
Ternyata berani bersikap jujur itu berat dan sulit. Tragisnya banyak orang menanam pohon ketidak-jujuran itu untuk memanen buah-buah kekecewaan, penyesalan, dan aib.
Hal itu pula yang terjadi pada anak Ibu Aa, yaitu PR. Ibu Aa meminta PR untuk jujur dan berterus terang. PR bukannya mengaku, melainkan main sembunyi dan kebablasan.
“Apakah mengingatkan anak untuk berhati-hati dan waspada itu salah?” keluh Ibu Aa seperti ditujukan pada diri sendiri.
Tidak Mencari Kesalahan, tapi untuk Dibenahi
Semula Ibu Aa mengira, PR insyaf dan putus dengan pacarnya, karena Km tidak ke rumah lagi. Sedang PR, meski sering tugas luar kota, jika libur kerja ia lebih senang ngendon di kamar untuk istirahat dan tidur.
Anehnya, PR yang sering tugas luar kota itu sering meminta uang pada orangtuanya, padahal gajinya lumayan. Alasan PR, uang jatah dari kantor kecil. Meski dirasa janggal, tapi orangtuanya tidak bertanya lebih lanjut. Apalagi untuk kroscek ke kantornya.
Aib itu terkuak oleh Ibu Aa, ketika tanpa sengaja ia memergoki PR dengan Km. Padahal PR mengaku bertugas ke luar kota. Faktanya…?! Yang membuat ia shock adalah, PR sedang menggendong anak kecil. Mungkinkah itu…?!
Dada Ibu Aa seperti digodam. Jika hal itu benar anak mereka, hatinya perih dan sakit. Alangkah nelangsa, karena mereka tidak meminta restu seperti tidak mempunyai orangtua … Pikirannya jadi makin tidak karuan.
Tiba-tiba terasa genggaman jemari kasih dan tatapan suaminya yang teduh itu bagai energi tambahan agar ia sabar dan tabah dalam menghadapi kenyataan itu.
Sebagai suami, saya mencoba bersikap tenang dan berpikir jernih, meski kenyataan itu berat dan pahit.
Sebagai orangtua adalah wajar, jika mengingatkan PR, untuk memberi tahu Km supaya tidak berpakaian seronok, jika ke rumah. Tujuannya agar tidak muncul gunjingan dan cemoohan tetangga, karena tinggal di kampung. Faktanya, mereka pat-gulipat dan tetap menjalin hubungan, hingga kebablasan …
Sekarang yang utama dan penting adalah menunggu kepulangan PR untuk minta kejelasan hubungan mereka dan tentang anak kecil itu.
Kami harus berjiwa besar untuk berani menerima kenyataan itu. Tidak untuk mencari-cari kesalahan atau menghakimi. Tapi semua itu untuk dibenahi dan diperbaiki demi kebaikan bersama dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.
Gusti, nyuwun kawelasan.
Mas Redjo

