“Tidak ada gunanya gengsi itu, jika menjauhkan kita dari keluarga. Lebih bijak berjiwa besar. Kita minta maaf, meski tidak bersalah.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Berani memaafkan dan kita berani minta maaf, kendati tidak bersalah adalah jalan kerendahan hati untuk bijaksana.
Saat ini saya disodori persoalan yang dilematis. Ibarat makan buah simalakama. Maju kena mundur kena.
Awalnya adalah, saya dan suami selalu memotivasi anak-anak untuk mandiri. Setelah menikah, mereka harus ke luar rumah membangun hidup berumah tangga yang mandiri.
Faktanya, kedua anak saya telah menikah. Mereka tinggal di rumah masing-masing yang jaraknya jauh, karena mendekati kantor. Sedang saya tinggal sendiri, sejak suami berpulang setahun yang lalu, karena serangan jantung.
Saya merasa kehilangan ditinggal anak-anak, lalu suami berpulang. Padahal saya berharap ada seorang anak mau menemani. Di sisi lain, ternyata aktivitas saya dalam berkegiatan sosial juga tidak mampu mengusir sepi. Apalagi saat sendiri di rumah.
Jujur, saya ingin minta mereka agar ada yang mau menemani, tapi saya ragu.
Saran teman agar kamar-kamar yang kosong itu untuk kos-kosan, juga saya tolak. Saya tidak nyaman tinggal dengan orang asing. Lalu?
“Bulik, jika kangen pergi ke A atau B, ganti-gantian. Anggap saja pelesir,” kata Ibu D. “Tapi ya, repot Bulik ndak bisa nyopir.”
“Coba lihat Bu ST itu. Ada anak dan menantunya menemani dari Senin hingga Jumat. Sedang Jumat malam mereka pulang ke rumah,” Ibu B menimpali.
Di saat sepi kian mendera, saya sujud pada Tuhan mohon pendampingan-Nya agar saya tabah dan sabar untuk menerima kenyataan ini.
Saya berharap ada seorang anak yang mau menemani. Saya akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan mereka. Semoga mereka memahami.
…
Mas Redjo

