Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di keremangan senja, aku tancapkan ujung tumit kaki-kakiku di atas bentangan sunyi butiran pasir pantai nan lembut.”
(Deskripsi Hidup Alam nan Senja)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini murni hanya sebuah imajinasi saat nuranimu terpana dan terguncang menyaksikan sebuah lukisan pemandangan alam senja.
Adapun deskripsi alam itu tampak meredup berhiaskan bias-bias sinar nan lembut mentari senja.
Tampak sederetan pepohonan entah jenis apa yang seolah terkatup mulut dan tangannya. Dedaunan meredup dan hening bagai denyut jantung musafir gurun kala sendu bersyukur di kaki senja merapat manja.
Tampak juga beberapa ekor burung mungil yang bercengekerama di ujung reranting nan meredup.
Di bawah sana tampak air mengalir dalam sunyi bagai liukan ular, walau pun riak rindunya masih sempat kudengar sayup-sayup.
Kini, aku berdiri menatap pada sunyi sepoi alam senja. Jauh di dasar lubuk jiwa, aku bertanya sendu, “Duh, Gusti nan Suci, apakah sendu senja ini adalah ekspresi sendu jiwa Suci-Mu, ataukah hanya sepenggal alam fatamorgana?โ
Ternyata di sana tidak pernah ada sahutan. Tapi yang sempat aku dengar dan rasakan, bahwa sungguh, betapa damai dan sunyi alam senja ini.
Sesungguhnya, hati ini sangat ingin agar ekspresi bahasa alam senja nan meremang ini tak sudi beranjak dari sisiku.
Aku sungguh merindukan keberadaan dari sepotong alam senja menerawang manja agar senantiasa hadir dan ada bersamaku.
Manakala aku terjaga dari igau panjang kekagumanku pada sepotong alam senja nan sunyi, bahwa sejatinya manusia itu makhluk yang gampang terbawa arus suasana sebuah zaman.
Ketika sekali lagi aku menatap remang senja, sadarlah aku, bahwa di sana hadirlah Sang Maha Cinta.
Kini aku kian gegabah dengan meminjam kata-kata indah dari pujangga Santo Agustinus nan agung, “Tuhan, hatiku ini tidak tenteram, sebelum biduk hidupku berlabuh di dermaga kasih-Mu!”
Ternyata keberadaan sepotong senja yang meremang ini mampu menggetarkan redup letih jiwaku.
Goresan tata warna alam senja ternyata sanggup mengekspresikan eksistensi dari Sang Maha Sunyi Maha Cinta.
Bahasa sunyi alam ternyata juga mampu meyadarkan manusia, bahwa hidup dan petualangan ini, suatu saat akan meremang.
Semesta alam turut mengabarkan, bahwa rembang petang hidup ini juga sudah kian mendekat.
Beranjaklah ke sana seirama bergeraknya sang waktu alam senja menerawang.
Alam semesta ini sesungguhnya adalah ekspresi dari keindahan dan kemuliaan Sang Maha Pencipta.
Alam senja menerawang adalah juga deskripsi dari sang waktu yang bergerak pelan namun pasti menuju batasnya.
Kediri, 9 Juni 2024

