Ada cukup banyak dari antara kita yang mempunyai kebiasaan sangat baik dalam memberikan sapaan perjumpaan maupun perpisahan.
Ketika berjumpa teman, ada yang mengatakan: “Tuhan memberkati”, “Yesus bersamamu”, “Yesus mencintaimu”, dan sebagainya.
Saat hendak berpisah, muncul kata-kata yang menyejukkan hati. Misalnya: “Semoga Tuhan Yesus menyertaimu”, “Semoga Tuhan mendampingimu”, “Semoga Tuhan memberkatimu”, dan sebagainya.
Bahkan tidak terkecuali, lewat SMS muncul kata-kata dengan nuansa yang sama dalam bentuk singkatan. Misalnya: JLU = Jesus Love You, GBU = God Bless You, JMU = Jesus Miss You.
Kata-kata di atas itu adalah contoh, bagaimana kita mau melibatkan dan menghadirkan Allah dalam kehidupan ini. Kehadiran Allah jadi bagian dari hidup kita. Jika kita tidak mempunyai kebiasaan untuk melibatkan dan menghadirkan Allah dalam hidup ini, semoga kita tidak merasakan Allah yang jauh di atas sana. Atau muncul kesan, bahwa Allah terlalu misteri, sehingga sama sekali tidak menyentuh hidup kita yang terasa kosong ini.
Dalam tema perayaan Ekaristi, kita diajak untuk “Berjaga-jagalah.” Mengapa? Karena akhir-akhir ini kita dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa di luar kendali kita. Tayangan kriminalitas, kekerasan, kecelakaan, kematian, dan berita di sosmed yang dipenuhi kebencian serta kekerasan. Sehingga pikiran dan jiwa yang bersih ini jadi tercemari oleh habitus kekerasan yang terus ditampilkan. Masih juga kita dibayang-bayangi dengan peristiwa-peristiwa kekerasan di luar kendali kita. Makna pesan Tuhan Yesus: Berjaga-jagalah! Makna yang lain waspada atau siap siaga.
Jika kita pinjam dari Injil Lukas dituliskan demikian: berjagalah senantiasa … berdoalah, supaya kamu beroleh kekuatan … tahan berdiri di hadapan Putera Manusia (bdk. Luk 21: 36). Atau kalau mau yang lebih oke lagi, kita mengikuti saran Santo Paulus kepada Jemaat di Efesus: Ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah. Berdirilah tegap, berikat-pinggangkan kebenaran, berbaju-zirah keadilan, berkasut kerelaan, pergunakanlah perisai iman, bermahkota keselamatan dan berpedang Roh, yaitu Firman Allah (bdk Ef 6: 14-16).
Dengan cara demikian kita tidak menempatkan Allah dalam kotak kosong, tapi melibatkan dan menghadirkan Allah dalam gerak hidup kita. Kita membangun pemahaman Allah yang ‘omni presence’. Allah yang hadir di mana-mana dan terlebih hadir dalam hati kita.
Karena Allah bersemayam di hati, hendaknya kita jangan mudah menyakiti Allah dengan tindakan-tindakan yang menambah dosa.
Ada cerita unik yang mengkritik hidup kita, judulnya “Tuhan Bersembunyi.”
Suatu ketika, Tuhan tampak letih sekali. Ia duduk dan merenung. Para malaikat datang menghampiri.
“Tuhan ada apa?” tanya salah satu malaikat.
“Aku letih. Setiap saat manusia selalu memberondong Aku dengan keluhan, protes, dan permohonan. Jarang sekali yang mengucapkan syukur atas pemberian-Ku. Hal itu yang membuat hati-Ku sedih,” jawab Tuhan.
“Tuhan tampaknya Engkau perlu berlibur,” usul seorang malaikat.
“Di mana?” tanya Tuhan.
“Bagaimana kalau ke puncak Gunung Himalaya?”
“Bukannya banyak manusia sering ke situ,” ujar malaikat lainnya. “Bagaimana kalau di dasar laut yang paling dalam?”
“Suatu ketika pasti ada kapal selam yang mencapainya. Bagaimana kalau ke planet yang terjauh?”
“Suatu ketika akan dapat dicapai manusia juga.”
Lalu, malaikat Gabriel yang sejak tadi diam, tiba-tiba berkata, “Tuhan, aku tahu tempat yang paling baik untuk berlibur. Tempat ini sangat dekat dengan manusia, cuma manusia amat jarang pergi ke tempat ini.”
“Dimana itu?” tanya yang lainnya.
“Di dalam hati manusia,” jawab Malaikat Gabriel.
Sejak saat itu Tuhan bersemayam di dalam hati manusia. Di dalam hati inilah, Tuhan membawa sejumlah anugerah berharga untuk manusia: Sukacita, damai sejahtera, kemerdekaan, kasih, dan sebagainya.
Bersediakah kita menjumpai Tuhan yang bersemayam di dalam hati ini, sambil berjaga-jaga menantikan kedatangan-Nya?
Kepada orang yang sungguh-sungguh menantikan kedatangan-Nya, Dia menegaskan: Ero Cras. Artinya, besok Aku datang, ini bukan janji kosong!
Tuhan menyertai kita semua. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

