Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Lewat ekspresi dari bola matamu,
engkau pun telah mengabarkan suka duka hidupmu.”
(Didaktika Misteri Kehidupan)
Bicara lewat Bola Mata
Kebijaksanaan hidup telah mengajarkan kita, bahwa orang-orang bijaksana sering kali mengenksresikan isi hati mereka lewat gerak-gerik bola mata mereka. Lewat cara spesial itu, mereka sesungguhnya sedang menyampaikan berita tentang kandungan isi hati mereka hanya kepada Anda seorang.
Apa yang sedang mereka pergulatkan dan yang sedang dialaminya pula. Namun, sering kali justru kita yang tidak mampu menangkap sinyal hidup yang sangat spesifik ini. Dalam konteks ini, telah terjadi miskomunikasi antar sesama di dalam sebuah komunitas. Jika sudah terjadi demikian, maka akan ada kekacauan di dalam suatu kebersamaan.
Suara Senyap dari Bola Mata
Seorang karyawan dari sebuah perusahaan sering dianggap sebagai batu sandungan bagi Bos perusahaan serta sesama rekan kerjanya. Mengapa demikian? Dia selalu mereaksi atas sebuah informasi itu hanya lewat ekor mata, tanpa kata dan suara.
Suatu hari, Bos perusahaan itu mendekati seorang psikolog berpengalaman untuk memohon pandangan dan pendapatnya soal reaksi unik dari karyawan itu.
Apa pandangan dan pendapat Psikolog berpengalaman itu?
Inilah saripati dari pandangan beliau!
Sambil menatap ramah kepada Bos perusahaan, “Pada dasarnya, setiap orang itu unik, bahkan sangat unik, Pak. Saking uniknya, sering kali kita tidak pahami, apa maunya atau maksudnya. Ingatlah, bahwa hal ini pun dibutuhkan suatu penerimaan dan pemahaman yang mendalam.
Yang jelas, bahwa karyawan ini memiliki sebuah masa lalu dari dalam keluarganya. Karena sebuah reaksi unik itu hanyalah sebuah sinyal yang mendeskripsikan suasana atau keadaan masa lalu dari seseorang.
Saran saya, ajaklah karyawan itu untuk berdialog dari hati ke hati. Telusuri masa lalunya dan pahami kondisi spesialnya itu. Dapat saja, ia adalah anak terbuang atau ditinggalkan oleh orangtuanya. Jadi, reaksi unik itu adalah ekspresi dari keadaannya di masa lalunya yang menderita.
Ya, sungguh benar, karena orang-orang minder, tertekan, dan yang menderita berkepanjangan itu sering tidak berani untuk bersuara. Uniknya lagi, bahwa mereka sering kali akan berkomunikasi lewat sudut matanya dan bukan lewat kata-kata.
Sebagai sesama manusia, ya, sayangilah dia. Berikan dia bidang pekerjaan yang menuntun dia untuk lebih banyak berbicara. Hal ini bertujuan untuk memulihkan keberaniannya dalam hal berbicara.
Refleksi
Betapa khasnya makhluk manusia itu, hendaknya dapat dipahami sebagai sebuah keunikan.
Sebuah keunikan, baik sebagai sebuah bawaan lahir atau karena aspek kondisi tertentu, hendaklah tetap dapat dihargai.
Karena aku ini unik, maka aku bukan kamu, inilah aku si unik itu!
Kian unik, justru kian meng’aku!’
Kediri, 6 November 2025

