“Untuk jadi baik itu bukan sekadar retorika atau janji manis belaka. Melainkan perubahan pola pikir, tutur kata, dan perilaku kita agar seia-sekata.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Pagi ini saya belajar untuk jadi baik untuk melihat hikmat dari dua orang teman. Sebut saja: KM dan GA.
Dari KM, saya belajar berhikmat untuk berani berbesar hati untuk tidak ‘grusa-grusu’ dalam bersikap menghadapi masalah, tapi agar rendah hati dan bijaksana.
Karena ditentang orangtua doi, KM sakit hati. Seharusnya ia berjuang meyakinkan, tapi malah ke luar dari pekerjaan untuk menyepi dan menenangkan diri. Menurut guru dari Ayahnya, selama dua Minggu itu ia dilarang berhubungan dengan orang lain. Ia diminta hanya fokus sembayang untuk mendekatkan diri pada Yang Kuasa.
Lucunya, KM dimintai mahar 10 gram emas. Sebagai teman, saya sekadar urun saran, mengingatkan. Menurut saya, perihal mahar itu tidak masuk akal. Juga gara-gara pacar, ia nekat ke luar dari pekerjaan. Apakah KM sedang belajar ilmu pengasihan?
Saya tidak mau bertanya jauh dan berprasangka buruk padanya. Saya meminta padanya agar berani menghadapi kenyataan itu dengan kebesaran hati dan sabar. Bertanya langsung pada doi untuk memilih dan memutuskan itu benar. Jika doi tidak berani memberatinya, untuk apa dilanjut? Berarti belum berjodoh dan dunia itu tidak selebar daun kelor. Karena adalah tidak mungkin, jika setiap ada masalah sulit, ia harus menyepi dan sembunyi dari dunia ramai.
Berbeda dengan KM. Dari GA, saya belajar hal positif untuk berusaha memberi yang terbaik dari hidup ini hingga akhir.
Ceritanya, GA pindah kerja di suatu perusahaan multinasional dengan masa percobaan 6 bulan. Akhir bulan kelima, atasannya memberi tahu, bahwa pekerjaannya tidak diperpanjang alias ia diberhentikan. Ia diminta bersiap diri untuk pindah dan mencari pekerjaan lain.
Meski tahu pekerjaan bakal tidak diperpanjang, GA tidak patah semangat dan nglokro. Sebaliknya ia berusaha untuk memberikan yang terbaik dari dirinya sebagai komitmen dan tanggung jawabnya pada perusahaan.
Ketika akhir masa kontraknya itu, ternyata GA memperoleh kejutan. Ia tidak diberhentikan, sebaliknya diangkat jadi karyawan tetap. Sehingga ia tidak harus melamar dan mencari pekerjaan lagi.
Dari KM dan GA, saya belajar mengambil hikmat untuk bersikap dalam menghadapi tantangan dan persoalan itu dengan rendah hati dan bijaksana.
Untuk jadi baik dan yang terbaik itu saya dituntut giat belajar, berlatih, dan mempraktekkan ilmu hidup itu hingga akhir. Ibarat mengimani Tuhan Yesus sebagai jalan lurus (Matius 7: 13-14). Hidup ini harus diarahkan dan fokus melewati jalan yang sempit untuk mencapai tujuan. Saya harus mengelola bakat dan talenta yang dianugerahi Tuhan untuk memberikan yang terbaik dari hidup saya sebagai ungkapan pujian dan syukur kepada-Nya.
…
Mas Redjo

