Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Berhentilah sejenak sebelum engkau meneruskan ziarahmu. Ikutilah peredaran sang mentari hingga senja pun tiba.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Hidup ini bagai Menaiki Anak Tangga
Hidup ini bagaikan sebuah ziarah yang sangat panjang. Ia bahkan bagaikan seulur anak tangga yang sepi dari ujung ke ujung lainnya. Ia berarak dari sebuah titik pijak awal menuju ke titik pijak paling akhir. Di sana, lewat jalan panjang itu, kita akan menapakinya sepanjang ziarah hidup ini.
Aneka Tantangan dan Hambatan
Laksana seorang pengembara dina papa, maka engkau akan melewati sebuah jalan: berliku, berkelok, berngarai, dan berbukit.
Lewati dan hadapi realitas medan hidupmu itu. Percayalah engkau harus tabah dan siap untuk menghadapinya.
Engkau akan dihadang dan ditantang oleh beratnya medan juang ini. Tapi pengembara itu tabah, takwa, dan setia menghadapinya.
Engkau tentu sadar dan tahu tujuan serta arah jalan hidupmu.
Teruslah Berdoa dan Berharap
Sama seperti kesetiaan dan ketabahan Santo Agustinus, pujangga agung yang berani dan teguh menantang arus zaman kehidupan ini lewat alunan doa serta harapan.
“Tuhan, hatiku sungguh tidaklah tenteram sebelum biduk hidupku ini dapat sampai dan berlabuh di keteduhan dermaga cinta-Mu.”
Kita adalah Pengembara Latah itu
Sejatinya kita adalah pengembara latah itu. Kita adalah pengemudi tabah nan tawakal itu. Juga sang pengemudi mungil biduk hidup itu.
Seperti apa yang pernah dideskripsikan dan direfleksikan oleh para filsuf, bahwa manusia itu sejatinya makhluk yang terpental dari langit ke atas bumi ini, bukan atas kehendak kita.
Dampaknya di atas bumi ini, kita hidup tertatih terlunta mengembara tidak tahu arah. Kita akhirnya sibuk mencari dan mengais rezeki hidup ini.
Hingga kita pun dijuluki sebagai “homo viator,” alias pengembara di bumi oleh filsuf eksistensialis Gabriel Marsel.
“Ke mana kita akan pergi?” Atau lebih tepat “di mana dan kapan, kita akan mengakhiri ziarah hidup ini?” Maka, “Berhentilah sejenak!”
“Tak ada yang tahu,” itulah jawaban yang paling bijaksana. Maka, engkau pun terus akan berjalan.
Bukankah naluri sejati pengembara itu akan terus mengembara di atas jagad hidup ini?
Beraraklah bersama sang mentari menuju kaki langit keabadian!
…
Kediri,ย 31ย Agustusย 2024

