Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Disintegrasi Positif”
(Lewat proses yang menyakitkan, kelak akan membawa hasil)
(Kazimierz Dabrowski)
Bersakit-sakitlah Dahulu, Bersenang-senanglah Kelak
Para pendahulu bangsa kita telah mewariskan sebuah ungkapan, “Bersakit-sakitlah dahulu, dan bersenang-senanglah kemudian.” Sebuah persuasi yang bersifat memotivasi, agar kita berani untuk menerima dan bersedia menderita lewat suatu proses yang sangat menyakitkan.
Mari Belajar dari Tiram
Inilah sebuah proses penderitaan yang luar biasa yang dialami oleh tiram. Tapi lewat daya juangnya, maka ia pun memperoleh hasil yang menakjubkan.
Inilah proses yang menakjubkan itu!
Tatkala sebutir pasir masuk ke dalam kerangnya, ia dengan tetap tenang menghadapi gangguan itu dengan cara mengeluarkan lendir dari dalam tubuhnya dan dibungkusnya pasir itu hingga bertahun-tahun. Lambat laun proses itu berubah jadi sebutir mutiara nan indah.
Harry Emerson Fosdick
(1500 Cerita Bermakna)
Disintegrasi Positif
Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Polandia-Kanada, ‘Kazimierz Dobrawski.’ Ia menggambarkan suatu perpecahan psikologis yang diikuti oleh proses reintegrasi atau penyatuan kembali.
Bahwa telah terjadi suatu krisis secara internal yang akhirnya memicu lewat suatu proses perubahan dan transformasi, sekalipun lewat cara yang sangat menyakitkan, namun dapat berakhir positif. “Oh felix culpa” (suatu kehancuran menuju kebahagiaan!)
Bagaimana Menghadapi Krisis Hidup Kita
Riil pula, bahwa di dalam proses hidup ini, kita tidak terhindar dari aneka krisis hidup. Ada-ada saja krisis itu datang dan menghadang kita. Apakah kita harus berlari menghindar? Ataukah bersembunyi diri lewat aneka alasan yang sifatnya mengada-ada?
Sejujur dan seharusnya, kita harus bersedia untuk menanggungnya, memikul dan berproses. Rasa sakit itu hanyalah ibarat bunga-bunga api yang beterbangan dan akan menghilang. Namun, di balik rasa sakit itu, justru akan melahirkan kebahagiaan yang tak terkira.
Bukankah ada prinsip kehidupan, bahwa “Sesungguhnya, tidak akan ada kemenangan, tanpa peperangan atau tidak akan ada prestasi, tanpa perjuangan?” Itulah sebuah hukum kearifan dari tata kehidupan ini. “Vivere militare est.”
Refleksi
- Hidup yang bermakna adalah hidup yang terus diperjuangkan.
- Tidak ada prestasi, tanpa suatu perjuangan.
- Marilah kita berguru pada ilmu Tiram, yang dalam diam itu rela menerima penderitaan!
Post Nubila Lux
(Habis gelap, terbitlah terang)
Kediri, 14 November 2025

